BLOG Review-ERP
Tetap update dengan berita dan wawasan terkini tentang Software ERP, inovasi teknologi, serta perkembangan terbaru dalam pengelolaan bisnis di era industri 4.0 di Indonesia.
Digital Twin: Manfaat, Jenis dan Trendnya di Masa Depan
Digital twin adalah salah satu inovasi paling penting dalam transformasi industri modern karena mampu menghadirkan representasi virtual dari aset, proses, maupun sistem fisik secara real-time. Dengan teknologi ini, perusahaan dapat memantau, menganalisis, dan mengoptimalkan operasional tanpa harus selalu berinteraksi langsung dengan objek fisiknya. Keunggulan digital twin tidak hanya terletak pada kemampuannya mereplikasi kondisi nyata, tetapi juga dalam memprediksi potensi masalah dan memberikan solusi berbasis data yang lebih akurat.
Lebih jauh lagi, digital twin berperan sebagai jembatan penting dalam penerapan konsep Industry 4.0 dan smart factory. Teknologi ini membuka peluang besar bagi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya operasional, sekaligus mempercepat inovasi produk. Tidak heran jika digital twin kini mulai diadopsi lintas sektor, mulai dari manufaktur, energi, kesehatan, hingga transportasi, dan dipandang sebagai fondasi penting dalam membangun masa depan industri yang lebih cerdas dan berkelanjutan.
Apa itu Digital Twin?
Digital Twin adalah teknologi yang menciptakan representasi virtual dari objek, proses, atau sistem fisik di dunia nyata yang diperbarui secara real-time melalui data sensor dan konektivitas IoT. Dengan kata lain, digital twin berfungsi sebagai kembaran digital yang meniru kondisi, perilaku, dan kinerja dari aset fisik untuk kemudian dipantau, dianalisis, bahkan dioptimalkan tanpa harus berinteraksi langsung dengan objek aslinya.
Konsep ini memungkinkan perusahaan untuk melakukan simulasi, prediksi, dan perencanaan dengan lebih akurat. Misalnya, sebuah pabrik bisa menggunakan digital twin untuk memantau mesin produksi, mengidentifikasi potensi kerusakan sebelum terjadi, atau menguji skenario perbaikan tanpa menghentikan operasional nyata. Karena mampu mengurangi risiko, meningkatkan efisiensi, dan mendukung inovasi, digital twin kini dipandang sebagai salah satu pilar utama dalam perkembangan smart manufacturing dan transformasi digital industri.
Manfaat Digital Twin
digital twin tidak hanya sekadar menghadirkan kembaran virtual dari aset fisik, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi operasional perusahaan. Teknologi ini membawa berbagai manfaat strategis yang mampu meningkatkan efisiensi, kualitas, hingga keberlanjutan bisnis di berbagai sektor industri.
- Meningkatkan Efisiensi Operasional
Dengan pemantauan real-time, perusahaan dapat mengoptimalkan penggunaan aset, mengurangi waktu henti (downtime), dan mempercepat alur kerja produksi. - Prediksi dan Pencegahan Kerusakan
Digital twin memungkinkan deteksi dini potensi kerusakan mesin atau sistem melalui analisis data, sehingga perbaikan bisa dilakukan sebelum masalah besar terjadi. - Mengurangi Biaya Operasional
Melalui simulasi virtual, perusahaan dapat menguji berbagai skenario tanpa mengganggu aset fisik, sehingga menghemat biaya percobaan dan perawatan. - Mendukung Inovasi Produk
Perusahaan bisa mengembangkan dan menguji prototipe digital terlebih dahulu sebelum memproduksi versi fisiknya, yang mempercepat siklus inovasi. - Meningkatkan Kualitas Produk
Dengan kontrol ketat melalui kembaran digital, standar kualitas lebih mudah dijaga karena setiap tahap produksi dapat dipantau secara detail. - Memperkuat Pengambilan Keputusan
Data yang dihasilkan dari digital twin memberikan wawasan yang lebih akurat, sehingga manajemen dapat membuat keputusan strategis berbasis data nyata. - Mendukung Keberlanjutan
Dengan efisiensi energi, pengurangan limbah, dan pemanfaatan sumber daya yang lebih tepat, digital twin membantu perusahaan menjalankan praktik manufaktur yang ramah lingkungan.
Baca juga: 10 Software Manufaktur Terbaik di Indonesia 2025
Jenis-Jenis Digital Twin
Jenis-jenis Digital Twin dapat dibedakan berdasarkan fokus dan lingkup penggunaannya dalam industri. Masing-masing jenis memiliki fungsi spesifik untuk membantu perusahaan memahami, memantau, dan mengoptimalkan aset maupun proses. Berikut penjelasannya:
- Component Twin
Merupakan representasi digital dari satu komponen atau bagian terkecil dari sebuah mesin atau produk. Jenis ini sering digunakan untuk menganalisis kinerja spesifik dari satu elemen, misalnya bearing atau sensor. - Asset Twin
Digital twin yang mencerminkan keseluruhan aset fisik, seperti mesin produksi atau kendaraan. Jenis ini memungkinkan pemantauan kondisi, perawatan prediktif, dan pengoptimalan aset secara menyeluruh. - System Twin
Berfokus pada hubungan antara beberapa aset yang saling terhubung, misalnya sebuah lini produksi di pabrik. Dengan system twin, perusahaan bisa menganalisis alur kerja dan menemukan titik lemah dalam sistem. - Process Twin
Digunakan untuk menggambarkan proses bisnis atau alur kerja produksi secara keseluruhan. Process twin membantu perusahaan menguji skenario, mengidentifikasi hambatan, dan merancang strategi perbaikan. - Enterprise Twin
Merupakan skala paling luas dari digital twin yang melibatkan seluruh operasi perusahaan. Jenis ini mengintegrasikan data dari berbagai departemen untuk mendukung pengambilan keputusan strategis berbasis data real-time.
Baca juga: Cloud Manufacturing: Pengertian, Manfaat dan Fiturnya
Komponen Utama Digital Twin
Komponen utama Digital Twin terdiri dari beberapa elemen penting yang saling terhubung untuk membentuk representasi digital yang akurat dan bermanfaat. Berikut penjelasannya:
- Model Fisik (Physical Asset)
Merupakan objek nyata yang direpresentasikan, seperti mesin, kendaraan, bangunan, atau bahkan proses produksi di pabrik. - Model Digital (Digital Model)
Kembaran virtual yang dibangun dengan data desain CAD, simulasi, atau pemodelan 3D untuk mencerminkan kondisi aset fisik. - Sensor dan IoT (Internet of Things)
Perangkat yang mengumpulkan data real-time dari aset fisik, seperti suhu, tekanan, getaran, atau performa mesin, lalu mengirimkannya ke model digital. - Data dan Integrasi Sistem
Kumpulan data historis maupun real-time yang diolah dan dianalisis. Integrasi ini biasanya melibatkan sistem ERP, MES, maupun platform IoT untuk memastikan aliran data berjalan lancar. - Platform Analitik dan Machine Learning
Digunakan untuk menganalisis data yang terkumpul, melakukan simulasi, serta menghasilkan prediksi mengenai kinerja, perawatan, dan optimasi. - Antarmuka Visualisasi
Tampilan dashboard atau simulasi 3D yang memungkinkan pengguna berinteraksi dengan digital twin, memantau kondisi, hingga menguji skenario tertentu.
Peran Digital Twin di Berbagai Industri
Peran Digital Twin di Berbagai Industri sangat luas karena teknologi ini dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan spesifik tiap sektor. Berikut gambaran perannya di beberapa industri utama:
- Manufaktur
Digital twin membantu mengoptimalkan lini produksi dengan simulasi real-time, mendeteksi potensi kerusakan mesin, serta meningkatkan efisiensi operasional. - Kesehatan (Healthcare)
Teknologi ini digunakan untuk membuat kembaran digital organ tubuh atau bahkan tubuh manusia secara keseluruhan, sehingga dokter dapat merancang perawatan yang lebih personal dan akurat. - Transportasi dan Otomotif
Produsen kendaraan memanfaatkan digital twin untuk merancang desain mobil, menguji performa mesin, hingga melakukan prediksi perawatan berbasis data penggunaan nyata. - Energi dan Utilitas
Digital twin membantu perusahaan energi memantau kinerja turbin angin, jaringan listrik, maupun pipa distribusi untuk mencegah downtime dan meningkatkan keandalan pasokan. - Konstruksi dan Infrastruktur
Dalam pembangunan gedung atau kota pintar (smart city), digital twin dipakai untuk memantau kondisi bangunan, merencanakan renovasi, dan mengelola infrastruktur secara berkelanjutan. - Aerospace dan Pertahanan
Industri dirgantara menggunakan digital twin untuk merancang pesawat, memantau performa komponen penting, serta menjamin keselamatan dengan simulasi berbasis data real-time.
Trend Masa Depan Digital Twin
Trend masa depan Digital Twin menunjukkan bahwa teknologi ini akan semakin menjadi pilar utama dalam transformasi digital lintas industri. Dengan dukungan IoT, AI, machine learning, dan cloud computing, digital twin tidak lagi sekadar alat pemantauan, tetapi akan berkembang menjadi pusat pengambilan keputusan berbasis data yang cerdas. Ke depan, digital twin akan semakin mampu memprediksi, menyesuaikan, bahkan mengoptimalkan proses produksi maupun operasional secara otomatis tanpa banyak intervensi manusia.
Selain itu, digital twin juga akan berperan penting dalam mendukung sustainability. Teknologi ini memungkinkan simulasi efisiensi energi, pengurangan limbah, hingga optimalisasi rantai pasok agar lebih ramah lingkungan. Tren lain yang akan muncul adalah integrasi dengan metaverse dan augmented reality (AR/VR), di mana kembaran digital dapat diakses dan dimanipulasi secara interaktif oleh pengguna. Hal ini akan membuka peluang baru, baik dalam pengembangan produk, perawatan jarak jauh, hingga pelatihan tenaga kerja berbasis simulasi real-time. Dengan arah ini, digital twin diprediksi menjadi teknologi fundamental bagi industri masa depan yang cerdas, efisien, dan berkelanjutan.
Kesimpulan
Digital twin telah menjadi salah satu fondasi penting dalam transformasi industri modern. Dengan kemampuannya menciptakan kembaran virtual dari aset, sistem, maupun proses, teknologi ini menghadirkan peluang besar bagi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya, sekaligus mempercepat inovasi. Lebih dari sekadar alat monitoring, digital twin kini berfungsi sebagai platform prediktif dan analitik yang membantu pengambilan keputusan strategis berbasis data real-time, serta mendukung penerapan smart manufacturing dan konsep Industry 4.0 secara lebih matang.
Bagi perusahaan yang ingin mengoptimalkan potensi digital twin, integrasi dengan software ERP menjadi langkah strategis agar penerapannya selaras dengan kebutuhan bisnis. Melalui ERP, aliran data dari berbagai departemen dapat dihubungkan langsung dengan digital twin untuk menghasilkan analisis yang lebih akurat dan terukur. Jika Anda tertarik memahami lebih dalam bagaimana digital twin dapat diimplementasikan di industri Anda, tim Review ERP siap membantu memberikan konsultasi dan panduan penerapan terbaik sesuai kebutuhan bisnis Anda
Mengenal Computer-Aided Manufacturing (CAM) dalam Industri Manufaktur
Computer-Aided Manufacturing adalah pendekatan penting dalam dunia industri modern karena mampu menjembatani proses desain digital dengan tahap produksi secara otomatis. Dengan teknologi ini, perusahaan dapat mengurangi kesalahan manusia, mempercepat waktu produksi, serta meningkatkan presisi hasil akhir. Integrasi perangkat lunak CAD dengan mesin manufaktur membuat alur kerja menjadi lebih efisien, sehingga produk yang dihasilkan memiliki kualitas konsisten sesuai standar yang diinginkan. Hal ini menjadikan CAM sebagai salah satu fondasi utama dalam penerapan konsep manufaktur berbasis teknologi.
Lebih dari sekadar alat bantu, Computer-Aided Manufacturing juga berperan sebagai strategi transformasi digital di sektor manufaktur. Melalui otomasi yang terprogram dengan baik, perusahaan bisa memproduksi dalam skala besar tanpa kehilangan fleksibilitas untuk menyesuaikan desain produk. Inovasi ini tidak hanya menguntungkan industri besar, tetapi juga semakin relevan untuk perusahaan menengah yang ingin meningkatkan daya saing di pasar global, sekaligus meminimalkan defective product dan equipment downtime. Dengan begitu, CAM bukan hanya tentang efisiensi teknis, melainkan juga tentang keberlanjutan bisnis di era industri 4.0.
Apa itu Computer-Aided Manufacturing?
Computer-Aided Manufacturing (CAM) adalah sebuah pendekatan dalam proses produksi yang memanfaatkan perangkat lunak komputer untuk mengendalikan mesin manufaktur secara otomatis. Teknologi ini bekerja dengan cara menerjemahkan desain digital yang dibuat menggunakan CAD (Computer-Aided Design) menjadi instruksi yang dapat dipahami mesin, seperti CNC (Computer Numerical Control), 3D printer, atau mesin pemotong laser. Dengan CAM, proses yang biasanya rumit dan berisiko tinggi dilakukan secara lebih cepat, presisi, dan minim kesalahan.
Secara sederhana, CAM adalah jembatan antara desain virtual dengan hasil nyata di lantai produksi. Sistem ini memungkinkan perusahaan untuk mempercepat siklus manufaktur, menghemat biaya operasional, meningkatkan kualitas produk, hingga membuka peluang untuk menghasilkan desain kompleks yang sulit dicapai dengan metode tradisional. Karena itulah, CAM menjadi salah satu pilar penting dalam transformasi industri menuju era otomatisasi dan smart manufacturing
Manfaat Computer-Aided Manufacturing
Computer-Aided Manufacturing (CAM) hadir sebagai solusi strategis yang mampu menghadirkan berbagai manfaat nyata bagi proses produksi.
- Meningkatkan Kecepatan Produksi
Proses manufaktur dapat berlangsung lebih cepat karena mesin otomatis mengikuti instruksi digital tanpa harus menunggu intervensi manual. - Menjamin Presisi dan Konsistensi
CAM mengurangi risiko kesalahan manusia dan memastikan hasil produksi selalu sesuai standar kualitas yang ditetapkan. - Mengurangi Cacat Produk
Dengan kontrol otomatis yang presisi, tingkat kegagalan atau produk cacat dapat ditekan secara signifikan. - Menghemat Biaya Operasional
Minimnya kesalahan, efisiensi penggunaan material, dan pengurangan waktu produksi berdampak langsung pada penghematan biaya. - Fleksibilitas dalam Desain Produk
Perusahaan dapat dengan cepat menyesuaikan atau memodifikasi desain produk sesuai kebutuhan pasar tanpa harus mengubah keseluruhan alur produksi. - Mendukung Produksi Skala Besar
CAM memungkinkan manufaktur massal dengan kualitas yang tetap terjaga, sehingga cocok untuk industri berorientasi volume tinggi. - Mendorong Inovasi Produk
Dengan dukungan teknologi digital, desain kompleks yang sulit dicapai dengan metode tradisional dapat diproduksi lebih mudah.
Jenis-Jenis Computer-Aided Manufacturing (CAM)
Jenis-jenis Computer-Aided Manufacturing (CAM) terbagi ke dalam beberapa kategori utama berdasarkan metode produksi dan teknologi yang digunakan. Setiap jenisnya memiliki peran penting dalam mendukung efisiensi dan akurasi manufaktur modern. Berikut penjelasannya:
- Milling (Frais CNC)
Jenis CAM ini menggunakan mesin pemotong berputar untuk membentuk material sesuai desain digital. Umumnya dipakai dalam industri otomotif, dirgantara, hingga pembuatan komponen logam presisi. - Turning (Bubut CNC)
Proses ini melibatkan pemutaran material sementara alat potong membentuk produk sesuai instruksi. Cocok digunakan untuk membuat komponen silindris seperti poros, baut, atau roda gigi. - Drilling (Pengeboran CNC)
CAM jenis ini fokus pada pembuatan lubang dengan presisi tinggi. Banyak dipakai dalam produksi komponen elektronik maupun peralatan mesin yang membutuhkan detail lubang kompleks. - Electrical Discharge Machining (EDM)
EDM memanfaatkan percikan listrik untuk membentuk material keras yang sulit dipotong dengan metode konvensional. Biasanya digunakan untuk cetakan (mold) dan dies pada industri manufaktur plastik maupun logam. - Laser Cutting & Plasma Cutting
CAM dengan teknologi pemotongan laser atau plasma memungkinkan hasil potong yang halus dan presisi, sangat cocok untuk industri otomotif, perhiasan, hingga konstruksi. - Additive Manufacturing (3D Printing)
Berbeda dengan metode subtraktif, jenis ini menambahkan material lapis demi lapis sesuai desain CAD. Sangat bermanfaat untuk prototyping, produksi komponen kompleks, hingga personalisasi produk. - Robotics-based CAM
Jenis CAM ini memanfaatkan robot industri yang diprogram melalui sistem CAM untuk melakukan perakitan, pengelasan, atau manipulasi material dengan akurasi tinggi.
Perbedaan CAD dan CAM
Computer-Aided Design (CAD) dan Computer-Aided Manufacturing (CAM) sama-sama berperan penting dalam dunia industri, tetapi keduanya memiliki fungsi dan tujuan yang berbeda meskipun saling berkaitan.
CAD adalah teknologi yang digunakan untuk membuat, memodifikasi, menganalisis, dan mengoptimalkan desain produk dalam bentuk digital. Dengan CAD, seorang desainer atau engineer bisa membuat model 2D maupun 3D yang detail, lengkap dengan spesifikasi teknis sebelum diproduksi. Tujuan utama CAD adalah menghasilkan rancangan yang akurat, mudah disimulasikan, serta siap diterjemahkan ke tahap produksi.
Sementara itu, CAM lebih berfokus pada proses manufaktur. Teknologi ini bertugas menerjemahkan data desain dari CAD menjadi instruksi yang dipahami mesin produksi, seperti CNC, laser cutter, atau printer 3D. Dengan CAM, proses produksi berlangsung otomatis, cepat, dan presisi sesuai rancangan yang dibuat di tahap CAD.
Secara sederhana, CAD adalah tahap perencanaan dan desain, sedangkan CAM adalah tahap eksekusi dan produksi. Keduanya saling melengkapi: tanpa CAD, desain produk tidak siap diproduksi; tanpa CAM, desain digital tidak bisa diwujudkan menjadi produk nyata.
Bagaiamana Computer-Aided Manufacturing dapat terintegrasi
Proses integrasi paling umum terjadi antara CAD dan CAM, di mana desain digital dari CAD langsung diterjemahkan ke dalam instruksi mesin melalui CAM tanpa perlu input manual tambahan. Selain itu, CAM juga bisa terhubung dengan ERP (Enterprise Resource Planning) atau MES (Manufacturing Execution System) untuk memastikan perencanaan produksi, manajemen material, dan jadwal operasional berjalan sinkron. Integrasi ini memungkinkan perusahaan mengontrol proses dari desain, perencanaan, hingga produksi secara real-time, sehingga mengurangi risiko kesalahan, mempercepat waktu produksi, dan menjaga konsistensi kualitas.
Tantangan dalam Implementasi Computer-Aided Manufacturing
Meskipun Computer-Aided Manufacturing (CAM) menawarkan banyak keuntungan bagi dunia industri, penerapannya tidak selalu berjalan mulus. Ada sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan perusahaan sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada teknologi ini.
- Biaya Investasi yang Tinggi
Pengadaan software CAM, mesin CNC, hingga infrastruktur pendukung membutuhkan modal besar, terutama bagi perusahaan skala kecil dan menengah. - Kebutuhan Tenaga Kerja Terampil
Operator harus memiliki keterampilan teknis dalam pemrograman mesin, integrasi sistem, hingga analisis data agar CAM dapat digunakan secara optimal. - Kompleksitas Integrasi Sistem
CAM perlu diselaraskan dengan software lain seperti CAD, ERP, maupun MES, yang sering kali memerlukan proses integrasi rumit. - Risiko Downtime Produksi
Gangguan pada software atau kerusakan mesin dapat menghentikan proses produksi dan menimbulkan kerugian besar. - Kurangnya Standarisasi
Perbedaan format data antar software atau mesin bisa menyulitkan proses transfer desain dari CAD ke CAM. - Perubahan Budaya Kerja
Perusahaan perlu melakukan adaptasi, baik dari sisi manajemen maupun operator, agar siap beralih ke sistem manufaktur berbasis digital.
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Computer-Aided Manufacturing (CAM) merupakan teknologi kunci dalam dunia industri modern yang mampu menjembatani desain digital dengan proses produksi secara otomatis. Dengan berbagai manfaat seperti peningkatan efisiensi, presisi, fleksibilitas desain, hingga mendukung inovasi produk, CAM telah menjadi pilar penting dalam transformasi menuju manufaktur cerdas di era industri 4.0. Namun, perusahaan juga perlu memahami berbagai tantangan implementasi, mulai dari biaya investasi, kebutuhan tenaga kerja terampil, hingga kompleksitas integrasi sistem.
Untuk itu, memilih software manufaktur yang tepat menjadi langkah strategis agar penerapan CAM berjalan optimal dan sesuai kebutuhan bisnis. Jika Anda masih ragu dalam menentukan solusi terbaik, tim Review-ERP siap membantu memberikan rekomendasi software manufaktur yang sudah mendukung integrasi dengan sistem CAM. Dengan konsultasi bersama Review-ERP, Anda bisa mendapatkan panduan yang lebih tepat, efisien, dan sesuai dengan skala serta industri perusahaan Anda.
Cloud Manufacturing: Pengertian, Manfaat dan Fiturnya
Cloud Manufacturing kini menjadi salah satu fondasi penting dalam transformasi industri modern. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, perusahaan manufaktur tidak lagi bisa hanya mengandalkan sistem tradisional yang terbatas pada perangkat lokal. Dengan memanfaatkan teknologi berbasis cloud, pabrik mampu mengintegrasikan proses produksi, distribusi, hingga pengelolaan data dalam satu ekosistem yang fleksibel dan efisien. Hal ini memungkinkan akses real-time, kolaborasi lintas lokasi, serta kemampuan untuk menyesuaikan kapasitas produksi sesuai kebutuhan pasar.
Lebih dari sekadar tren, Cloud Manufacturing telah menjadi solusi strategis yang membantu perusahaan menekan biaya operasional, meningkatkan kualitas produk, sekaligus mempercepat inovasi. Model ini memberikan keleluasaan bagi bisnis manufaktur untuk memanfaatkan sumber daya digital tanpa terbebani infrastruktur fisik yang mahal. Dengan kata lain, Cloud Manufacturing tidak hanya mengubah cara pabrik beroperasi, tetapi juga membuka peluang baru bagi perusahaan untuk beradaptasi dengan tuntutan era Industri 4.0 dan menghadapi tantangan masa depan dengan lebih tangkas.
Apa itu Cloud Manufacturing?
Cloud Manufacturing adalah sebuah model produksi berbasis teknologi cloud computing yang memungkinkan proses manufaktur dijalankan, dikendalikan, dan dioptimalkan melalui platform digital yang terhubung dengan internet. Konsep ini bekerja dengan cara mengubah sumber daya fisik seperti mesin, perangkat lunak, data, hingga kapasitas produksi menjadi layanan virtual yang dapat diakses secara fleksibel sesuai kebutuhan. Dengan pendekatan ini, perusahaan tidak harus memiliki semua infrastruktur sendiri, melainkan dapat memanfaatkan layanan manufaktur secara on-demand mirip seperti menggunakan layanan berbasis cloud pada bidang IT.
Dengan kata lain, Cloud Manufacturing menyatukan kekuatan teknologi informasi, big data, kecerdasan buatan, dan internet untuk membangun ekosistem produksi yang lebih cerdas, terintegrasi, dan efisien. Model ini memungkinkan pabrik atau bahkan bisnis kecil untuk mengakses layanan manufaktur dari berbagai penyedia, berkolaborasi lintas lokasi, serta menyesuaikan kapasitas produksi dengan lebih cepat tanpa investasi besar pada fasilitas fisik.
Manfaat Cloud Manufatruing
Cloud Manufacturing membawa perubahan besar dalam cara perusahaan mengelola proses produksi di era digital. Kehadiran model ini menghadirkan sejumlah manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh industri manufaktur dalam operasional sehari-hari.
- Efisiensi Biaya
Perusahaan tidak perlu mengeluarkan investasi besar untuk membeli mesin, server, atau perangkat lunak khusus, karena semua bisa diakses melalui layanan berbasis cloud sesuai kebutuhan (pay-as-you-go). - Fleksibilitas Produksi
Kapasitas produksi dapat disesuaikan dengan cepat, baik untuk meningkatkan output ketika permintaan naik atau mengurangi beban saat pasar melambat. - Kolaborasi Global
Tim, mitra, maupun pemasok dari berbagai lokasi dapat bekerja dalam satu platform yang sama, memudahkan koordinasi, berbagi data, dan mempercepat pengambilan keputusan. - Akses Real-Time
Informasi terkait status produksi, stok bahan baku, hingga performa mesin dapat dipantau kapan saja dan dari mana saja, sehingga meningkatkan transparansi operasional. - Peningkatan Inovasi
Dengan memanfaatkan teknologi digital seperti big data dan AI dalam cloud, perusahaan bisa lebih cepat mengembangkan produk baru, menguji desain, dan melakukan simulasi proses manufaktur. - Skalabilitas dan Kecepatan Implementasi
Implementasi Cloud Manufacturing lebih cepat dibanding membangun sistem tradisional. Selain itu, layanan bisa diperluas seiring pertumbuhan bisnis tanpa harus mengubah infrastruktur dari awal.
Cara Kerja Cloud Manufacturing
Cara kerja Cloud Manufacturing pada dasarnya mirip dengan konsep cloud computing, namun diterapkan khusus di dunia manufaktur. Sistem ini mengubah sumber daya produksi seperti mesin, peralatan, perangkat lunak, hingga kapasitas pabrik menjadi layanan digital yang dapat diakses melalui jaringan internet. Semua sumber daya tersebut dipetakan ke dalam platform cloud, lalu dikelola dalam bentuk layanan yang bisa dipanggil atau digunakan kapan saja sesuai kebutuhan perusahaan.
Prosesnya dimulai dengan digitalisasi data manufaktur, termasuk desain produk, jadwal produksi, dan ketersediaan mesin. Data ini disimpan di cloud dan dapat diakses secara real-time oleh berbagai pihak yang terlibat, baik internal maupun eksternal. Selanjutnya, perusahaan dapat memilih layanan manufaktur tertentu misalnya pencetakan 3D, pemesinan CNC, atau perakitan tanpa harus memiliki fasilitas fisiknya. Platform cloud kemudian mengatur alokasi sumber daya, mengoptimalkan proses produksi, serta memastikan hasil akhir sesuai spesifikasi. Dengan mekanisme ini, Cloud Manufacturing membuat produksi lebih efisien, terdistribusi, dan mudah diskalakan.
Baca juga: 10 Software Manufaktur Terbaik di Indonesia 2025
Jenis-Jenis Cloud Manufacturing
Jenis-jenis Cloud Manufacturing umumnya dibedakan berdasarkan cara layanan manufaktur ditawarkan dan bagaimana perusahaan memanfaatkannya. Berikut penjelasannya:
1. Public Cloud Manufacturing
Jenis ini menyediakan layanan manufaktur melalui platform cloud terbuka yang dapat diakses oleh berbagai perusahaan. Penyedia layanan biasanya menawarkan sumber daya produksi, perangkat lunak, hingga infrastruktur yang dapat digunakan bersama oleh banyak pengguna dengan sistem berlangganan atau pay-per-use. Cocok untuk bisnis skala kecil hingga menengah yang ingin fleksibilitas tanpa investasi besar.
2. Private Cloud Manufacturing
Berbeda dengan publik, model ini dirancang khusus untuk satu perusahaan atau organisasi. Infrastruktur cloud dikelola secara internal atau melalui penyedia khusus, sehingga keamanan data dan kendali penuh lebih terjamin. Biasanya digunakan oleh perusahaan besar atau industri dengan standar keamanan tinggi, seperti otomotif, dirgantara, atau farmasi.
3. Hybrid Cloud Manufacturing
Jenis ini menggabungkan kelebihan dari public dan private cloud. Perusahaan dapat menyimpan data sensitif atau proses inti di private cloud, sementara memanfaatkan public cloud untuk kebutuhan produksi tambahan atau kolaborasi eksternal. Model ini membantu menjaga keseimbangan antara keamanan, fleksibilitas, dan efisiensi biaya.
4. Community Cloud Manufacturing
Pada model ini, beberapa perusahaan dengan kepentingan yang sama—misalnya dalam satu rantai pasok atau industri tertentu—berbagi infrastruktur cloud untuk mendukung kolaborasi. Jenis ini umum digunakan dalam proyek bersama, penelitian industri, atau konsorsium manufaktur.
Fitur-Fitur Cloud Manufacturing
Cloud Manufacturing tidak hanya menawarkan konsep produksi berbasis digital, tetapi juga menghadirkan berbagai fitur yang mendukung efisiensi dan fleksibilitas operasional. Fitur-fitur ini menjadi fondasi utama dalam menciptakan ekosistem manufaktur yang lebih terintegrasi dan adaptif terhadap kebutuhan industri modern.
- Virtualisasi Sumber Daya
Cloud Manufacturing mampu mengubah mesin, peralatan, perangkat lunak, hingga kapasitas produksi menjadi layanan digital yang dapat diakses sesuai kebutuhan. Hal ini membuat perusahaan tidak harus memiliki semua infrastruktur fisik sendiri. - Akses Real-Time
Data produksi, status mesin, ketersediaan bahan baku, hingga pergerakan rantai pasok dapat dipantau secara langsung kapan saja dan dari mana saja. Fitur ini meningkatkan transparansi dan mempercepat pengambilan keputusan. - Skalabilitas Produksi
Perusahaan dapat menambah atau mengurangi kapasitas produksi dengan cepat sesuai fluktuasi permintaan pasar, tanpa perlu investasi besar pada peralatan baru. - Integrasi Lintas Sistem
Cloud Manufacturing mendukung integrasi berbagai aplikasi seperti PLM, MES, SCM, QMS, hingga MRO dalam satu ekosistem digital. Dengan integrasi ini, alur kerja menjadi lebih efisien dan terhubung. - Kolaborasi Global
Tim dari berbagai lokasi, pemasok, hingga mitra bisnis dapat bekerja pada platform yang sama, berbagi data, serta menyelesaikan proyek bersama dengan lebih efektif. - Analitik dan Big Data
Cloud Manufacturing dilengkapi dengan kemampuan analitik yang memanfaatkan big data untuk memprediksi permintaan, mendeteksi potensi kerusakan mesin, dan mengoptimalkan proses produksi. - Keamanan Data dan Kontrol Akses
Meskipun berbasis cloud, sistem ini menyediakan kontrol akses yang ketat serta enkripsi data, sehingga informasi sensitif perusahaan tetap terjaga. - Automasi Proses
Banyak layanan cloud manufacturing yang terhubung dengan teknologi otomasi dan AI, memungkinkan proses seperti penjadwalan produksi, pengendalian kualitas, hingga pemeliharaan mesin dilakukan secara otomatis.
Perbedaan Cloud Manufacturing dan Manufacturing Tradisional
Kedua pendekatan ini memiliki perbedaan mendasar, baik dari sisi infrastruktur, biaya, hingga fleksibilitas operasional. Memahami perbedaan tersebut penting bagi perusahaan agar dapat menentukan model produksi yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.
1. Infrastruktur Produksi
Manufacturing tradisional mengandalkan aset fisik berupa mesin, peralatan, dan fasilitas produksi yang sepenuhnya dimiliki perusahaan. Investasi awal sangat besar, dan kapasitas produksi terbatas pada infrastruktur yang tersedia. Sebaliknya, Cloud Manufacturing memanfaatkan sumber daya yang diproyeksikan sebagai layanan berbasis cloud. Mesin, perangkat lunak, hingga kapasitas produksi dapat diakses sesuai kebutuhan (on-demand), tanpa harus memiliki seluruh fasilitas sendiri.
2. Akses dan Skalabilitas
Dalam sistem tradisional, akses data dan kontrol produksi biasanya hanya terbatas pada lokasi pabrik. Ketika permintaan meningkat, perusahaan harus menambah mesin atau bahkan membangun fasilitas baru untuk meningkatkan kapasitas. Cloud Manufacturing menawarkan pendekatan berbeda: semua data dan proses dapat diakses secara real-time dari mana saja, sementara kapasitas produksi bisa diperluas dengan cepat mengikuti dinamika pasar.
3. Kolaborasi
Salah satu kelemahan utama manufaktur tradisional adalah keterbatasan dalam kolaborasi. Data sering kali terpisah antar divisi, sehingga menghambat kerja sama lintas tim maupun dengan mitra eksternal. Cloud Manufacturing justru dirancang untuk mendukung kolaborasi global. Tim, pemasok, hingga mitra bisnis dapat bekerja pada platform yang sama, berbagi informasi secara instan, dan mempercepat pengambilan keputusan.
4. Biaya Operasional
Manufacturing tradisional menuntut biaya besar, baik untuk investasi awal, perawatan mesin, maupun pengelolaan infrastruktur IT internal. Cloud Manufacturing lebih hemat biaya karena menggunakan model subscription atau pay-per-use. Pemeliharaan dan pengembangan sistem ditangani oleh penyedia layanan cloud, sehingga perusahaan bisa lebih fokus pada inti bisnisnya.
5. Fleksibilitas dan Inovasi
Perubahan dalam manufaktur tradisional sering kali lambat dan mahal, karena sangat bergantung pada infrastruktur fisik. Cloud Manufacturing jauh lebih fleksibel. Dengan dukungan big data, AI, dan analitik, perusahaan bisa melakukan simulasi, perencanaan, serta pengembangan produk baru dengan lebih cepat. Inovasi menjadi lebih mudah dijalankan karena proses digital dapat disesuaikan tanpa menambah investasi besar.
Kesimpulan
Cloud Manufacturing hadir sebagai jawaban atas keterbatasan sistem manufaktur tradisional. Dengan memanfaatkan teknologi berbasis cloud, perusahaan dapat mengelola produksi secara lebih fleksibel, efisien, dan terintegrasi. Mulai dari penghematan biaya, peningkatan kolaborasi global, hingga dukungan inovasi berbasis big data dan AI, model ini menawarkan keunggulan strategis bagi industri yang ingin bersaing di era Industri 4.0. Perbedaan mendasar dengan manufaktur tradisional semakin menegaskan bahwa cloud bukan sekadar tren, melainkan fondasi baru dalam operasional pabrik modern.
Namun, penerapan Cloud Manufacturing juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan skala bisnis masing-masing perusahaan. Pemilihan model layanan maupun fungsi cloud yang tepat akan sangat menentukan keberhasilan transformasi digital di bidang manufaktur. Untuk itu, Anda dapat berkonsultasi bersama Review-ERP guna mendapatkan rekomendasi solusi Cloud Manufacturing yang paling sesuai dengan kebutuhan bisnis Anda, sehingga transisi menuju sistem produksi digital dapat berjalan lebih efektif dan memberikan hasil optimal.
Order Management System: Manfaat, Fitur dan Cara Kerjanya
Order Management System sering kali menjadi titik kritis dalam perjalanan bisnis, terutama bagi perusahaan yang bergelut di dunia penjualan online maupun offline. Tanpa sistem yang terintegrasi, perusahaan rentan menghadapi masalah seperti pesanan yang salah kirim, stok yang tidak akurat, keterlambatan pengiriman, hingga menurunnya kepuasan pelanggan. Situasi ini tidak hanya menambah biaya operasional akibat retur dan komplain, tetapi juga bisa merusak reputasi bisnis di mata konsumen yang kini semakin menuntut kecepatan serta ketepatan layanan.
Sebagai solusinya, Order Management System hadir untuk menyatukan seluruh proses terkait pesanan dalam satu platform terpusat. Dengan teknologi ini, perusahaan dapat memantau status pesanan secara real-time, mengelola stok dengan akurat, serta mengotomatisasi alur kerja mulai dari penerimaan order hingga pengiriman akhir. Hasilnya, bisnis tidak hanya lebih efisien, tetapi juga mampu memberikan pengalaman pelanggan yang lebih baik sekaligus menjaga daya saing di pasar yang semakin kompetitif.
Apa itu Order Management System?
Order Management System (OMS) adalah sebuah sistem yang dirancang untuk mengelola seluruh siklus hidup pesanan pelanggan, mulai dari penerimaan order, pengecekan stok, pemrosesan pembayaran, hingga pengiriman barang ke tangan konsumen. Dengan OMS, semua aktivitas terkait pesanan dapat dipantau secara terpusat, sehingga perusahaan tidak perlu lagi bergantung pada pencatatan manual yang rawan kesalahan, sekaligus membantu mengoptimalkan biaya manufaktur dan cycle time produksi.
Dalam praktiknya, OMS berfungsi sebagai penghubung antara berbagai bagian penting dalam bisnis, seperti tim penjualan, gudang, logistik, dan layanan pelanggan. Sistem ini memastikan bahwa setiap pesanan diproses secara akurat, stok diperbarui secara real-time, dan status pengiriman dapat dilacak oleh perusahaan maupun konsumen
Manfaat Order Management System
Kehadiran Order Management System (OMS) menjadi solusi untuk memastikan setiap pesanan diproses lebih akurat, efisien, dan transparan. Berikut manfaat dari order management system:
- Mengurangi Human Error
Semua data pesanan tercatat otomatis dalam sistem, sehingga kesalahan manual dalam pencatatan maupun input bisa diminimalkan. - Pemantauan Stok Real-Time
OMS terintegrasi dengan sistem inventori, memungkinkan perusahaan mengetahui ketersediaan barang secara akurat dan mencegah kehabisan atau kelebihan stok. - Proses Pemenuhan Pesanan Lebih Cepat
Alur kerja dari penerimaan order, pengecekan stok, hingga pengiriman berjalan lebih efisien dan terkontrol. - Transparansi bagi Pelanggan
Konsumen bisa melacak status pesanan mereka secara langsung, meningkatkan rasa percaya dan kepuasan terhadap layanan perusahaan. - Efisiensi Biaya Operasional
Dengan pengelolaan order yang rapi, perusahaan dapat menekan biaya retur akibat salah kirim, mengurangi pemborosan stok, dan mempercepat arus kas. - Respon Cepat terhadap Perubahan
OMS memungkinkan perusahaan menyesuaikan order, menangani komplain, atau melakukan pembaruan data pelanggan dengan lebih cepat. - Meningkatkan Daya Saing Bisnis
Dengan proses order yang lebih cepat, transparan, dan efisien, perusahaan lebih siap bersaing di pasar modern yang menuntut kecepatan dan akurasi.
Baca juga: 10 Software ERP Terbaik di Indonesia 2025
Cara Kerja Order Management System
Cara Kerja Order Management System (OMS) dapat dipahami sebagai alur terintegrasi yang menghubungkan seluruh proses pesanan, mulai dari pelanggan melakukan pembelian hingga produk diterima di tangan mereka. Sistem ini bekerja secara otomatis untuk memastikan setiap langkah berjalan lancar, akurat, dan efisien.
Pertama, proses dimulai ketika pelanggan melakukan pemesanan melalui berbagai kanal, seperti toko online, marketplace, atau bahkan penjualan offline. Data pesanan kemudian masuk ke dalam OMS dan langsung diverifikasi, termasuk pengecekan ketersediaan stok di gudang. Jika stok tersedia, sistem akan melanjutkan ke tahap pemrosesan pembayaran yang terhubung dengan gateway pembayaran.
Selanjutnya, OMS mengatur alokasi pesanan ke gudang atau lokasi distribusi terdekat, sehingga pengiriman bisa lebih cepat dan hemat biaya. Barang kemudian diproses untuk pengemasan dan pengiriman, sementara sistem secara otomatis memperbarui status pesanan agar bisa dilacak oleh pelanggan. Setelah produk diterima, OMS mencatat penyelesaian transaksi sekaligus menyimpan data untuk analisis performa penjualan dan manajemen inventori ke depannya.
Baca Juga: Mengenal Product Lifecycle Management
Fitur Order Management System
Agar bisnis dapat mengelola pesanan dengan lebih efisien, sebuah Order Management System (OMS) dibekali dengan berbagai fitur yang dirancang untuk mendukung setiap tahap proses penjualan. Fitur-fitur ini tidak hanya membantu perusahaan menjaga akurasi dan kecepatan, tetapi juga meningkatkan pengalaman pelanggan secara menyeluruh.
- Manajemen Pesanan Terpusat
Semua pesanan dari berbagai kanal penjualan—seperti e-commerce, marketplace, maupun toko offline—dikelola dalam satu dashboard yang mudah dipantau. - Sinkronisasi Inventori Real-Time
Sistem selalu memperbarui jumlah stok secara otomatis setiap kali ada transaksi, sehingga risiko overstock maupun stockout dapat diminimalkan. - Automasi Proses Pemesanan
Mulai dari penerimaan order, verifikasi, pembayaran, hingga pengiriman, semuanya bisa diotomatisasi untuk mempercepat workflow dan mengurangi kesalahan. - Pelacakan Pengiriman
OMS memungkinkan pelanggan maupun perusahaan memantau status pengiriman barang secara real-time untuk meningkatkan transparansi layanan. - Integrasi Multi-Channel
Terhubung dengan berbagai platform penjualan (seperti Shopify, Tokopedia, Shopee, hingga POS offline), sehingga perusahaan bisa menjangkau lebih banyak pelanggan tanpa repot. - Laporan dan Analitik
OMS menyajikan data penjualan, performa produk, hingga tren pelanggan dalam bentuk laporan terperinci, membantu perusahaan membuat keputusan berbasis data. - Manajemen Retur dan Refund
Sistem menyediakan alur penanganan retur yang lebih rapi, termasuk proses penggantian barang atau pengembalian dana, agar pengalaman pelanggan tetap terjaga. - Dukungan Integrasi dengan Sistem Lain
Bisa dikoneksikan dengan ERP, CRM, software manufaktur hingga software akuntansi untuk memastikan seluruh ekosistem bisnis berjalan selaras.
Contoh Penerapan Order Management System
Contoh Penerapan Order Management System (OMS) dapat ditemukan di berbagai sektor bisnis di Indonesia, mulai dari ritel, e-commerce, hingga manufaktur. Sistem ini membantu perusahaan menyederhanakan alur pemesanan sekaligus memastikan pelanggan mendapatkan layanan yang cepat dan akurat.
Misalnya, di industri e-commerce, perusahaan seperti Tokopedia dan Shopee memanfaatkan sistem manajemen order terintegrasi untuk mengelola jutaan transaksi harian. OMS memastikan stok produk selalu terupdate secara real-time, pesanan dialokasikan ke gudang terdekat, dan status pengiriman dapat dilacak oleh konsumen. Hasilnya, proses belanja menjadi lebih lancar dan minim kesalahan.
Contoh lainnya adalah di sektor ritel, seperti Matahari Department Store, yang menghubungkan kanal penjualan offline dan online (omnichannel) melalui OMS. Dengan sistem ini, pelanggan bisa memesan barang secara online dan mengambilnya langsung di toko terdekat (click and collect), sementara perusahaan tetap bisa menjaga akurasi inventori di seluruh cabang.
Selain itu, perusahaan logistik seperti JNE juga menggunakan OMS untuk mengatur alur pemesanan jasa pengiriman. Sistem membantu mengelola order pickup, pelacakan paket, hingga integrasi dengan marketplace, sehingga mempermudah baik penjual maupun pembeli.
Baca juga: 10 Software Manufaktur Terbaik di Indonesia 2025
Kesimpulan
Order Management System (OMS) terbukti menjadi solusi penting bagi perusahaan modern untuk mengelola pesanan secara lebih efisien, transparan, dan akurat. Dengan fitur seperti sinkronisasi stok real-time, automasi proses order, hingga integrasi multi-channel, OMS membantu bisnis mengurangi kesalahan, mempercepat pengiriman, sekaligus meningkatkan kepuasan pelanggan. Penerapannya di berbagai sektor, mulai dari e-commerce hingga ritel dan logistik, menunjukkan bahwa sistem ini bukan sekadar alat operasional, tetapi strategi bisnis yang mampu memperkuat daya saing di pasar yang semakin kompetitif.
Namun, memilih Order Management System yang tepat tidaklah sederhana, terlebih jika perusahaan Anda sudah menggunakan software ERP atau sistem digital lainnya. Integrasi yang tepat sangat penting agar OMS bisa mendukung alur bisnis secara menyeluruh tanpa menimbulkan hambatan baru. Untuk itu, Anda dapat berkonsultasi dengan Review-ERP, yang akan membantu merekomendasikan solusi OMS paling sesuai dengan kebutuhan bisnis dan sistem yang sudah berjalan di perusahaan Anda. Dengan panduan yang tepat, Anda bisa memastikan OMS menjadi investasi strategis, bukan sekadar tambahan fitur.
Apa Itu Additive Manufacturing? Cara Kerja & Contoh Penerapannya
Additive Manufacturing merupakan sebuah teknologi manufaktur modern yang memungkinkan proses pembuatan produk dilakukan dengan cara menambahkan material secara bertahap sesuai desain digital. Metode ini berbeda dengan teknik tradisional yang biasanya menghilangkan atau memotong material dari sebuah blok besar. Dengan pendekatan lapis demi lapis, Additive Manufacturing mampu menghasilkan bentuk kompleks yang sulit dicapai oleh metode konvensional, sekaligus mengurangi limbah material dalam proses produksi.
Di era industri 4.0, Additive Manufacturing semakin banyak digunakan karena fleksibilitasnya dalam mencetak prototipe, komponen fungsional, hingga produk jadi dengan presisi tinggi. Teknologi ini tidak hanya mempercepat waktu produksi, tetapi juga membuka peluang inovasi di berbagai sektor seperti otomotif, kesehatan, penerbangan, hingga manufaktur konsumen. Keunggulan inilah yang menjadikan Additive Manufacturing sebagai salah satu pilar penting dalam transformasi industri modern.
Apa itu Additive Manufacturing?
Additive Manufacturing adalah proses produksi berbasis teknologi digital yang membuat suatu benda dengan cara menambahkan material lapis demi lapis hingga membentuk objek sesuai desain 3D. Berbeda dengan metode tradisional seperti subtractive manufacturing yang mengurangi material dari blok padat melalui pemotongan atau pengeboran, metode ini justru membangun produk dari nol menggunakan bahan tertentu, seperti plastik, resin, logam, hingga keramik.
Konsep ini sering disebut juga sebagai 3D printing dalam konteks aplikasinya, meskipun Additive Manufacturing mencakup skala yang lebih luas, termasuk pembuatan komponen industri yang kompleks dan berskala besar. Karena kemampuannya menghasilkan bentuk detail dengan presisi tinggi serta efisiensi material, Additive Manufacturing banyak dimanfaatkan di berbagai sektor, mulai dari kesehatan untuk pembuatan implan, hingga industri dirgantara yang memerlukan komponen ringan namun kuat.
Manfaat Additive Manufacturing
Teknologi Additive Manufacturing tidak hanya mengubah cara produk dibuat, tetapi juga menghadirkan berbagai keuntungan strategis bagi dunia industri. Dengan pendekatan yang lebih efisien, cepat, dan fleksibel, teknologi ini membuka peluang besar untuk inovasi di berbagai sektor.
- Mengurangi Limbah Produksi
Proses manufaktur berbasis penambahan material membuat penggunaan bahan lebih efisien, sehingga sisa material jauh lebih sedikit dibanding metode konvensional. - Mewujudkan Desain Kompleks
Teknologi ini mampu mencetak bentuk geometri rumit yang sulit dicapai dengan metode tradisional, tanpa mengurangi presisi maupun kekuatan produk. - Mempercepat Prototyping
Additive Manufacturing memungkinkan pembuatan prototipe dengan cepat dan biaya lebih rendah, sehingga perusahaan dapat melakukan uji desain lebih efisien. - Fleksibilitas Produksi
Komponen dapat dicetak sesuai kebutuhan (on-demand), mengurangi ketergantungan pada stok besar dan memperkecil biaya penyimpanan. - Produk Lebih Ringan dan Kuat
Dengan optimasi desain dan material, teknologi ini dapat menghasilkan produk yang lebih ringan namun tetap memiliki daya tahan tinggi, cocok untuk sektor otomotif maupun dirgantara. - Mendukung Inovasi
Additive Manufacturing membuka peluang besar bagi pengembangan produk baru dengan desain unik dan personalisasi, termasuk dalam bidang medis seperti pembuatan implan atau prostetik khusus pasien.
Baca juga: Green Manufacturing: Pengertian, Manfaat dan Teknologinya
Jenis-Jenis Additive Manufacturing
Jenis-jenis Additive Manufacturing dapat dibedakan berdasarkan teknologi dan material yang digunakan dalam proses pencetakan. Berikut penjelasannya dalam bentuk listicle agar lebih mudah dipahami:
1. Fused Deposition Modeling (FDM)
DM adalah teknologi pencetakan 3D yang paling umum digunakan. Prosesnya dilakukan dengan memanaskan filamen termoplastik (seperti ABS atau PLA) hingga meleleh, lalu menyusunnya lapis demi lapis sesuai model digital. Karena relatif murah dan mudah dioperasikan, FDM banyak dipakai untuk membuat prototipe cepat, model arsitektur, hingga alat bantu produksi sederhana. Contohnya seperti perusahaan otomotif sering menggunakan FDM untuk mencetak jig dan fixture yang membantu proses perakitan di pabrik.
2. Stereolithography (SLA)
SLA bekerja dengan memanfaatkan sinar laser ultraviolet yang diarahkan ke resin cair untuk mengeraskannya secara selektif. Teknologi ini dikenal mampu menghasilkan detail yang sangat tinggi dengan permukaan halus, sehingga banyak dipilih untuk produk dengan kebutuhan estetika atau presisi tinggi. Contohnya seperti Industri medis menggunakan SLA untuk mencetak model anatomi pasien sebelum operasi, sehingga dokter dapat melakukan perencanaan yang lebih akurat.
3. Selective Laser Sintering (SLS)
SLS menggunakan laser berdaya tinggi untuk melelehkan serbuk polimer, biasanya nylon, hingga menjadi bentuk padat. Kelebihannya adalah tidak memerlukan penopang (support material), karena serbuk yang belum meleleh akan menopang struktur selama pencetakan. Hasilnya kuat dan fungsional, cocok untuk komponen mekanis. Contohnya seperti Startup manufaktur lokal memanfaatkan SLS untuk mencetak custom parts pada peralatan mesin yang sulit diperoleh di pasaran.
4. Direct Metal Laser Sintering (DMLS) / Selective Laser Melting (SLM)
Kedua metode ini dikhususkan untuk logam, di mana laser melelehkan serbuk logam seperti aluminium, titanium, atau baja tahan karat. Proses ini memungkinkan terciptanya komponen logam yang kompleks, ringan, namun tetap kuat. Karena itu, teknologi ini menjadi favorit dalam industri dirgantara dan otomotif. Contohnya seperti Airbus menggunakan SLM untuk mencetak bracket logam pada pesawat, sehingga bobot berkurang tanpa mengurangi kekuatan struktural.
5. Binder Jetting
Dalam metode ini, cairan pengikat disemprotkan ke atas lapisan serbuk material (logam, keramik, atau pasir) untuk membentuk lapisan benda. Prosesnya cepat dan mampu mencetak objek berukuran besar. Namun, hasil cetakan biasanya perlu diproses lebih lanjut, seperti sintering atau infiltrasi. Contohnya seperti Industri pengecoran menggunakan binder jetting untuk membuat cetakan pasir dalam produksi komponen mesin besar.
6. Material Jetting
Teknologi ini menyerupai printer inkjet, hanya saja yang disemprotkan adalah tetesan resin cair yang langsung dikeringkan dengan sinar UV. Material jetting mampu menghasilkan produk dengan detail sangat tinggi, multiwarna, bahkan multimaterial dalam satu proses. Contohnya seperti Digunakan dalam industri perhiasan untuk membuat prototipe cincin atau kalung dengan detail rumit sebelum diproduksi massal.
7. Electron Beam Melting (EBM)
EBM menggunakan sinar elektron sebagai sumber energi untuk melelehkan serbuk logam di ruang vakum. Teknologi ini menghasilkan komponen logam dengan kualitas sangat tinggi, meski biayanya mahal dan prosesnya lebih lambat dibanding DMLS atau SLM. Contohnya seperti Digunakan untuk mencetak implan ortopedi berbahan titanium, karena mampu menghasilkan struktur berpori yang menyatu dengan tulang manusia.
Baca juga: 10 Software Manufaktur Terbaik di Indonesia 2025
Cara Kerja Additive Manufacturing
asdCara kerja Additive Manufacturing pada dasarnya adalah membangun objek secara bertahap dengan menambahkan material sesuai desain digital. Berbeda dengan metode konvensional yang biasanya mengurangi material, teknologi ini menggunakan pendekatan lapis demi lapis hingga bentuk akhir tercapai. Berikut penjelasannya secara runtut:
- Pembuatan Desain Digital 3D
Proses dimulai dengan membuat model 3D menggunakan perangkat lunak Computer-Aided Design (CAD). Desain ini kemudian diubah ke dalam format file standar seperti STL atau OBJ agar bisa dibaca mesin cetak 3D. - Pemotongan Desain menjadi Lapisan (Slicing)
File 3D kemudian diproses dengan software slicer untuk membaginya menjadi ratusan hingga ribuan lapisan tipis. Setiap lapisan berfungsi sebagai panduan bagi printer untuk menambahkan material secara berurutan. - Persiapan Printer dan Material
Printer disiapkan sesuai jenis teknologi yang digunakan, baik itu filamen termoplastik, resin cair, serbuk logam, atau keramik. Material dimasukkan ke dalam mesin untuk kemudian diproses sesuai metode pencetakan. - Proses Pencetakan Lapis Demi Lapis
Mesin mulai mencetak dengan menambahkan material lapisan demi lapisan. Tergantung jenisnya, bisa melalui pelelehan filamen, pengerasan resin dengan sinar UV, sintering serbuk dengan laser, atau peleburan logam dengan sinar elektron. - Pendinginan dan Solidifikasi
Setelah proses pencetakan selesai, objek dibiarkan mendingin agar material mengeras sempurna. Pada tahap ini, struktur sudah terbentuk sesuai desain digital awal. - Proses Pasca-Cetak (Post-Processing)
Produk hasil cetakan sering memerlukan langkah tambahan, seperti pembersihan serbuk sisa, penghilangan support, sintering, pengecatan, atau finishing permukaan. Tahap ini penting untuk meningkatkan kualitas, kekuatan, dan estetika produk akhir.
Dengan alur tersebut, Additive Manufacturing memungkinkan terciptanya produk yang lebih cepat, presisi, dan hemat material dibanding metode tradisional.
Perbedaan Additive Manufacturing dan Manufactur Tradisional
Perbedaan antara Additive Manufacturing dan manufaktur tradisional sangat mendasar karena keduanya menggunakan pendekatan yang berlawanan dalam membentuk produk.
Additive Manufacturing bekerja dengan prinsip menambahkan material lapis demi lapis untuk membangun objek sesuai desain digital. Metode ini memungkinkan pembuatan geometri kompleks dengan presisi tinggi serta mengurangi limbah material karena hanya menggunakan bahan sesuai kebutuhan. Selain itu, prosesnya lebih fleksibel untuk produksi skala kecil maupun kustomisasi, misalnya mencetak prototipe cepat, implan medis khusus pasien, atau komponen pesawat dengan bentuk rumit.
Sebaliknya, manufaktur tradisional seperti pemesinan (subtractive manufacturing), pengecoran, atau injeksi plastik menggunakan prinsip mengurangi atau membentuk material dari blok besar menjadi bentuk akhir. Proses ini cenderung menghasilkan lebih banyak limbah material, memerlukan cetakan atau tooling khusus, serta lebih efisien untuk produksi massal dalam jumlah besar. Keunggulannya terletak pada biaya yang lebih rendah per unit saat produksi skala besar dan konsistensi produk yang seragam.
Tantangan Additive Manufacturing
Tantangan dalam penerapan Additive Manufacturing cukup beragam meskipun teknologi ini menawarkan banyak manfaat. Berikut penjelasannya dalam bentuk listicle agar lebih mudah dipahami:
- Biaya Investasi Awal yang Tinggi
Mesin cetak 3D industri, khususnya untuk logam, memiliki harga sangat mahal dan memerlukan perawatan rutin. Hal ini menjadi hambatan bagi perusahaan kecil dan menengah untuk segera mengadopsinya. - Kecepatan Produksi Terbatas
Dibandingkan metode tradisional, proses pencetakan lapis demi lapis membutuhkan waktu lebih lama, terutama jika produk berukuran besar atau memiliki detail rumit. - Keterbatasan Material
Meskipun semakin berkembang, pilihan material yang bisa digunakan masih terbatas, khususnya untuk aplikasi teknik yang membutuhkan kombinasi kekuatan, ketahanan panas, dan daya tahan jangka panjang. - Kualitas Permukaan dan Akurasi Dimensi
Produk hasil cetak sering kali membutuhkan proses pasca-produksi seperti polishing atau sintering untuk mencapai kualitas permukaan dan toleransi dimensi yang sesuai standar industri. - Kurangnya Standarisasi
Hingga kini, standar internasional untuk kualitas, keamanan, dan sertifikasi produk Additive Manufacturing masih dalam tahap pengembangan, sehingga adopsi di industri regulatif seperti dirgantara dan medis bisa terhambat. - Keterampilan dan SDM Terbatas
Mengoperasikan mesin Additive Manufacturing serta mengelola desain digital memerlukan tenaga kerja dengan keahlian khusus, sementara ketersediaan SDM terampil masih terbatas di banyak negara, termasuk Indonesia. - Skalabilitas Produksi
Teknologi ini lebih ideal untuk prototyping atau produksi batch kecil. Namun, untuk skala massal, manufaktur tradisional masih lebih unggul dari sisi efisiensi dan biaya.
Teknologi yang Berperan dengan Additive Manufacturing
Perkembangan Additive Manufacturing tidak dapat dilepaskan dari dukungan berbagai teknologi canggih yang membuat proses pencetakan lebih presisi, efisien, dan terintegrasi dengan sistem industri modern. Kombinasi perangkat lunak, inovasi material, serta integrasi digital menjadikan teknologi ini semakin relevan di era Industri 4.0. Berikut Teknologi yang berperan dengan addictive manufacturing:
- Computer-Aided Design (CAD) dan Computer-Aided Engineering (CAE)
Desain digital menjadi pondasi utama Additive Manufacturing. CAD memungkinkan pembuatan model 3D secara detail, sedangkan CAE digunakan untuk menganalisis kekuatan, performa, hingga simulasi beban sebelum produk dicetak. - Software Slicing
Model 3D yang telah dibuat diproses dengan software slicer untuk diubah menjadi lapisan-lapisan tipis. Software ini juga mengatur parameter penting seperti kecepatan cetak, suhu, dan penggunaan material agar hasil optimal. - Material Science
Inovasi dalam ilmu material sangat penting, mulai dari polimer canggih, resin fotopolimer, serbuk logam berkualitas tinggi, hingga material biokompatibel. Perkembangan material inilah yang memperluas cakupan penggunaan Additive Manufacturing di berbagai industri. - Laser dan Electron Beam Technology
Teknologi laser berdaya tinggi dan electron beam digunakan untuk sintering atau melelehkan serbuk logam, sehingga memungkinkan pembuatan komponen yang kuat, ringan, dan presisi tinggi. - Internet of Things (IoT)
Dengan IoT, printer 3D bisa terhubung ke jaringan pabrik pintar. Sensor yang terpasang memantau performa mesin, konsumsi material, hingga kualitas cetakan secara real-time untuk meningkatkan efisiensi. - Artificial Intelligence (AI) dan Machine Learning
AI membantu mengoptimalkan desain, memprediksi kesalahan cetak, hingga menyesuaikan parameter proses. Machine Learning juga berperan dalam memperbaiki kualitas hasil dari waktu ke waktu berdasarkan data pencetakan sebelumnya. - Cloud Computing
Teknologi cloud memudahkan kolaborasi global dalam desain dan berbagi file 3D berukuran besar. Selain itu, cloud juga mendukung konsep distributed manufacturing, di mana file desain bisa dicetak di lokasi yang berbeda sesuai kebutuhan. - Enterprise Resource Planning (ERP)
ERP berperan penting dalam integrasi Additive Manufacturing dengan proses bisnis perusahaan. Sistem ini membantu mengelola inventori material cetak, penjadwalan produksi, kontrol biaya, hingga kualitas produk. Dengan ERP, data dari printer 3D bisa terhubung langsung ke rantai pasok dan sistem manajemen produksi, sehingga alur kerja menjadi lebih efisien dan transparan. - Post-Processing Technology
Hasil cetakan sering membutuhkan tahap akhir seperti heat treatment, penghalusan permukaan, atau coating. Teknologi post-processing ini memastikan produk memenuhi standar kualitas industri.
Baca juga: 10 Software ERP Terbaik di Indonesia 2025
Contoh Penerapan Additive Manufacturing
Additive Manufacturing, yang lebih dikenal sebagai 3D Printing, kini semakin banyak diterapkan dalam berbagai sektor industri karena kemampuannya mencetak objek lapis demi lapis dari desain digital. Teknologi ini memungkinkan produksi komponen yang kompleks, personalisasi produk, serta penghematan material dibandingkan metode manufaktur konvensional. Berikut beberapa contoh penerapannya:
- Industri Otomotif
Produsen mobil menggunakan additive manufacturing untuk membuat prototipe cepat, suku cadang ringan, hingga komponen dengan bentuk rumit yang sulit dicetak dengan teknik tradisional. Contohnya BMW dan Ford memanfaatkan 3D printing untuk mempercepat proses R&D sekaligus menekan biaya produksi. - Industri Kedirgantaraan
Pesawat membutuhkan komponen ringan namun tetap kuat. Boeing dan Airbus sudah memanfaatkan additive manufacturing untuk mencetak bracket, komponen mesin, hingga interior kabin, sehingga bisa mengurangi bobot pesawat dan konsumsi bahan bakar. - Industri Medis
Bidang kesehatan memanfaatkan teknologi ini untuk mencetak prostetik, implan tulang, hingga organ buatan yang sesuai dengan kebutuhan tiap pasien. Contohnya, penggunaan 3D printing untuk membuat implan rahang atau cetakan gigi yang dipersonalisasi. - Industri Manufaktur
Perusahaan sering menggunakan 3D printing untuk mencetak alat bantu produksi seperti jig, fixture, dan mould dengan biaya lebih rendah dan waktu produksi yang lebih singkat. - Industri Konstruksi
Teknologi additive manufacturing sudah digunakan untuk mencetak rumah dengan bahan beton khusus. Hal ini membuat proses pembangunan lebih cepat, hemat material, dan ramah lingkungan.
Di Indonesia, salah satu penerapan nyata ada pada BPPT (sekarang BRIN) yang mengembangkan teknologi 3D printing untuk sektor kesehatan, termasuk pembuatan alat pelindung diri (APD) dan komponen medis saat pandemi COVID-19.
Kesimpulan
Additive Manufacturing telah menjadi salah satu teknologi kunci dalam era industri modern, khususnya di tengah transformasi menuju Industri 4.0. Dengan pendekatan lapis demi lapis berdasarkan desain digital, teknologi ini mampu menghadirkan efisiensi material, fleksibilitas desain, serta peluang inovasi yang luas di berbagai sektor, mulai dari otomotif, kedirgantaraan, kesehatan, manufaktur, hingga konstruksi. Keunggulannya tidak hanya terletak pada kemampuan mencetak bentuk kompleks dengan presisi tinggi, tetapi juga pada pengurangan limbah dan percepatan proses pengembangan produk.
Namun, untuk memaksimalkan potensi Additive Manufacturing dalam proses bisnis, dibutuhkan sistem pendukung yang mampu mengintegrasikan data produksi, pengelolaan material, hingga kontrol biaya secara menyeluruh. Di sinilah peran Enterprise Resource Planning (ERP) menjadi penting. Jika Anda ingin mengetahui software ERP mana yang paling sesuai untuk mendukung penerapan Additive Manufacturing di perusahaan, tim Review-ERP siap membantu memberikan rekomendasi terbaik sesuai kebutuhan industri Anda.
Green Manufacturing: Pengertian, Manfaat dan Teknologinya
Green manufacturing merupakan pendekatan produksi yang menekankan pada efisiensi sumber daya sekaligus meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan. Konsep ini lahir dari kesadaran bahwa aktivitas industri menjadi salah satu penyumbang terbesar emisi karbon dan pencemaran, sehingga diperlukan metode baru yang lebih ramah lingkungan. Melalui penerapan praktik produksi hijau, perusahaan tidak hanya mengurangi limbah dan konsumsi energi, tetapi juga membangun reputasi positif di mata konsumen yang semakin peduli terhadap keberlanjutan.
Di sisi lain, penerapan green manufacturing bukan sekadar tren, melainkan sebuah kebutuhan strategis untuk menjaga daya saing di era modern. Perusahaan yang mampu mengadopsi teknologi ramah lingkungan, seperti energi terbarukan, daur ulang material, hingga sistem produksi berbasis digital, akan lebih siap menghadapi tuntutan regulasi global dan pasar yang menekankan aspek keberlanjutan. Dengan kata lain, green manufacturing tidak hanya mendukung kelestarian lingkungan, tetapi juga membuka peluang inovasi serta efisiensi biaya manufaktur jangka panjang.
Apa itu Green Manufacturing?
Green Manufacturing adalah sebuah konsep produksi yang berfokus pada pengurangan dampak negatif industri terhadap lingkungan dengan tetap menjaga efisiensi dan produktivitas. Inti dari pendekatan ini adalah memanfaatkan teknologi, proses, dan sumber daya secara optimal untuk menekan limbah, mengurangi emisi karbon, menghemat energi, serta meningkatkan penggunaan bahan ramah lingkungan atau daur ulang.
Dalam praktiknya, green manufacturing mencakup berbagai aspek, mulai dari desain produk yang mempertimbangkan siklus hidupnya, pemilihan material yang tidak merusak lingkungan, penggunaan energi terbarukan, hingga penerapan sistem otomatisasi yang mampu mengurangi konsumsi sumber daya. Dengan kata lain, green manufacturing bertujuan menciptakan keseimbangan antara keuntungan ekonomi perusahaan dan tanggung jawab sosial terhadap kelestarian alam.
Tujuan Green Manufacturing
Tujuan Green Manufacturing pada dasarnya adalah menciptakan proses produksi yang tidak hanya efisien secara ekonomi, tetapi juga berkelanjutan bagi lingkungan. Perusahaan yang menerapkan konsep ini berupaya menyeimbangkan kepentingan bisnis dengan tanggung jawab ekologis, sehingga manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang.
Secara lebih rinci, tujuan utamanya meliputi pengurangan limbah dan polusi dari aktivitas industri, penekanan konsumsi energi serta sumber daya alam, peningkatan penggunaan material ramah lingkungan atau hasil daur ulang, dan mendorong adopsi teknologi bersih. Selain itu, green manufacturing juga bertujuan membangun citra positif perusahaan di mata konsumen, mematuhi regulasi lingkungan yang semakin ketat, serta membuka peluang efisiensi biaya operasional
Manfaat Green Manufacturing

Green manufacturing tidak hanya menjadi jawaban atas tantangan lingkungan, tetapi juga strategi bisnis yang memberi nilai tambah bagi perusahaan. Dengan penerapan konsep ini, dunia industri mampu menciptakan keseimbangan antara efisiensi operasional dan keberlanjutan jangka panjang.
- Mengurangi Dampak Lingkungan
Menekan emisi karbon, limbah, dan polusi dari aktivitas produksi sehingga lebih ramah terhadap ekosistem. - Efisiensi Energi dan Sumber Daya
Mendorong penggunaan energi terbarukan serta optimalisasi bahan baku untuk mengurangi pemborosan. - Penghematan Biaya Jangka Panjang
Dengan sistem produksi yang lebih efisien dan minim limbah, perusahaan bisa menghemat biaya operasional secara berkelanjutan. - Meningkatkan Citra Perusahaan
Memberikan nilai tambah pada reputasi perusahaan di mata konsumen, mitra bisnis, dan investor yang peduli pada keberlanjutan. - Kepatuhan terhadap Regulasi
Membantu perusahaan memenuhi standar lingkungan yang semakin ketat baik di level nasional maupun internasional. - Daya Saing Global yang Lebih Kuat
Membuka peluang untuk menembus pasar internasional yang kini banyak menuntut produk ramah lingkungan. - Inovasi dan Diferensiasi Produk
Mendorong lahirnya teknologi baru, desain produk berkelanjutan, serta model bisnis yang lebih inovatif.
Baca juga: 10 Software Manufaktur Terbaik di Indonesia 2025
Teknologi dalam Green Manufacturing
Teknologi dalam Green Manufacturing memegang peranan penting untuk mewujudkan proses produksi yang lebih ramah lingkungan sekaligus efisien. Melalui pemanfaatan inovasi modern, perusahaan dapat mengurangi ketergantungan pada sumber daya tak terbarukan, meminimalkan limbah, serta mempercepat transisi menuju sistem industri berkelanjutan. Teknologi ini tidak hanya mencakup peralatan fisik, tetapi juga integrasi digital yang mendukung monitoring dan optimalisasi produksi.
Beberapa teknologi yang umum digunakan dalam green manufacturing antara lain:
- Energi Terbarukan
Green manufacturing mendorong perusahaan untuk beralih dari energi berbasis fosil menuju energi ramah lingkungan. Contohnya penggunaan panel surya, turbin angin, atau biomassa sebagai sumber listrik pabrik. Di Indonesia, PT Unilever Indonesia sudah menerapkan energi listrik dari sumber terbarukan di beberapa fasilitas produksinya, sehingga menekan emisi karbon sekaligus mendukung target energi hijau nasional. - Internet of Things (IoT) dan Sensor Cerdas
Teknologi IoT memungkinkan mesin, peralatan, dan sistem produksi saling terhubung sehingga konsumsi energi dan penggunaan material bisa dipantau secara real-time. Misalnya, sensor yang mendeteksi suhu mesin untuk mencegah overheat atau pemborosan energi. Di sektor otomotif Indonesia, beberapa pabrikan mulai mengintegrasikan IoT untuk predictive maintenance agar mesin lebih efisien dan berumur panjang. - Manufaktur Aditif (3D Printing)
Additive manufacturing mengurangi pemborosan material karena produk dibuat presisi sesuai desain, tanpa sisa bahan yang berlebih. Teknologi ini juga mempercepat proses prototyping sehingga lebih hemat biaya. Beberapa startup manufaktur di Bandung dan Surabaya sudah memanfaatkan 3D printing untuk membuat komponen industri, produk kesehatan, hingga suku cadang otomotif. - Sistem Daur Ulang dan Pengolahan Limbah
Pengolahan limbah menjadi salah satu fokus utama green manufacturing. Teknologi modern memungkinkan daur ulang air industri, pemrosesan limbah kimia, hingga pemanfaatan sisa produksi menjadi energi. Sebagai contoh, PT Indofood menggunakan sistem daur ulang air di beberapa fasilitas produksinya untuk mengurangi ketergantungan pada air tanah. - Kecerdasan Buatan (AI) dan Big Data Analytics
AI membantu menganalisis data produksi secara mendalam, mulai dari pola konsumsi energi hingga titik-titik inefisiensi dalam rantai pasok. Dengan teknologi ini, perusahaan bisa membuat keputusan yang lebih cepat dan tepat. Di Indonesia, beberapa perusahaan tekstil telah menggunakan big data untuk mengurangi konsumsi energi dalam proses pencelupan kain yang dikenal sangat boros air dan listrik. - Otomatisasi dan Robotika Hijau
Robot industri tidak hanya mempercepat produksi, tetapi juga membantu mengurangi penggunaan energi berlebih dengan kontrol presisi. Teknologi ini juga menurunkan jumlah produk cacat sehingga tidak banyak material terbuang. Misalnya, industri otomotif di Karawang sudah menerapkan robotika dalam lini produksi mobil yang hemat energi sekaligus lebih konsisten dalam kualitas. - Material Ramah Lingkungan
Pemilihan bahan baku ramah lingkungan menjadi bagian penting dalam green manufacturing. Contohnya bioplastik, material daur ulang, atau bahan alami yang lebih mudah terurai. Di Indonesia, industri kemasan makanan mulai beralih menggunakan bioplastik berbasis singkong atau jagung untuk mengurangi ketergantungan pada plastik berbasis minyak bumi.
Kesimpulan
Green manufacturing pada dasarnya bukan hanya sekadar konsep ramah lingkungan, melainkan strategi bisnis modern yang menyatukan efisiensi operasional dengan keberlanjutan jangka panjang. Melalui penerapan teknologi seperti energi terbarukan, IoT, 3D printing, hingga kecerdasan buatan, perusahaan dapat menekan dampak lingkungan, menghemat sumber daya, serta membangun citra positif di mata konsumen dan mitra bisnis. Dengan demikian, green manufacturing tidak hanya membantu menjaga kelestarian alam, tetapi juga membuka peluang inovasi, penghematan biaya, dan daya saing global yang lebih kuat.
Namun, keberhasilan implementasi green manufacturing tidak bisa dilepaskan dari dukungan sistem manajemen yang tepat. Salah satunya melalui penggunaan software ERP yang mampu mengintegrasikan proses produksi, mengoptimalkan rantai pasok, dan memastikan efisiensi energi maupun material secara real-time. Jika Anda ingin mengetahui software ERP mana yang paling sesuai untuk mendukung strategi green manufacturing di perusahaan Anda, berkonsultasilah dengan Review-ERP untuk mendapatkan rekomendasi terbaik berdasarkan kebutuhan industri.
