Last-In First-out (LIFO): Definisi, Tujuan dan Cara Kerjany
Last-In-First-Out (LIFO) menjadi salah satu pendekatan yang sering dipertimbangkan ketika perusahaan menghadapi dinamika perubahan biaya bahan baku dan volatilitas harga pasar. Dalam konteks manajemen persediaan dan pelaporan keuangan, strategi ini dipandang sebagai cara untuk menampilkan gambaran biaya yang lebih relevan dengan kondisi ekonomi terkini, terutama ketika harga cenderung meningkat dari waktu ke waktu.
Banyak bisnis melihat bahwa pilihan metode penilaian persediaan bukan sekadar keputusan teknis akuntansi, melainkan bagian dari strategi finansial yang dapat memengaruhi perhitungan laba, stabilitas laporan keuangan, serta daya saing perusahaan. Pemilihan metode ini dapat berpengaruh terhadap bagaimana kinerja keuangan terlihat oleh investor, regulator, atau mitra bisnis, serta bagaimana perusahaan mengelola risiko dan proyeksi keuntungan.
Apa itu Last-In-Frist-Out (LIFO)?
Last-In-First-Out (LIFO) adalah metode penilaian persediaan di mana barang atau unit yang terakhir masuk ke gudang diperlakukan sebagai yang pertama kali dikeluarkan atau dijual. Dalam pendekatan ini, biaya paling terbaru dari pembelian atau produksi dianggap sebagai dasar perhitungan harga pokok penjualan (COGS), sementara unit yang lebih lama tetap berada dalam nilai persediaan akhir.
Tujuan Penggunaan LIFO
Penggunaan LIFO bukan hanya berkaitan dengan bagaimana barang dikeluarkan dari gudang, tetapi juga strategi finansial yang dapat memberikan dampak signifikan pada laporan laba rugi. Pendekatan ini sering dipertimbangkan ketika harga bahan baku mengalami fluktuasi dan perusahaan perlu menyesuaikan beban biaya agar tetap kompetitif.
- Mengurangi Beban Pajak di Masa Inflasi
Dengan mengakui biaya persediaan terbaru sebagai COGS, laba yang dilaporkan cenderung lebih rendah sehingga dapat menurunkan kewajiban pajak perusahaan. - Merefleksikan Biaya Terkini dalam Laporan Keuangan
LIFO membantu menampilkan gambaran yang lebih akurat terhadap kondisi biaya yang sedang berlaku di pasar, terutama ketika harga bahan baku terus meningkat. - Menjaga Stabilitas Laba
Penggunaan biaya terbaru pada perhitungan COGS dapat membantu mengurangi fluktuasi laba yang ekstrem akibat lonjakan atau penurunan harga material. - Meningkatkan Perencanaan Anggaran dan Proyeksi Keuangan
Dengan laba yang lebih konsisten, perusahaan dapat membuat rencana operasional, produksi, dan investasi dengan lebih terukur. - Strategi untuk Mengontrol Margin dan Harga Penjualan
Informasi biaya terkini dapat membantu perusahaan menetapkan kebijakan harga yang lebih realistis sesuai pergerakan pasar.
Baca Juga: Mengenal Apa itu Buffer Stock dalam Inventory
Cara Kerja dan Contoh Perhitungan LIFO
Dalam metode Last-In-First-Out (LIFO), barang yang paling terakhir masuk ke gudang dianggap sebagai barang pertama yang dijual atau digunakan dalam produksi. Artinya, nilai biaya unit terbaru akan diprioritaskan sebagai dasar perhitungan Harga Pokok Penjualan (COGS), sedangkan unit yang lebih lama tetap tersisa sebagai persediaan akhir. Pendekatan ini biasanya digunakan ketika harga bahan baku terus mengalami kenaikan, sehingga biaya yang lebih tinggi tercermin langsung dalam laporan laba rugi.
Contoh sebuah perusahaan membeli persediaan barang dengan detail sebagai berikut:
| Tanggal Masuk | Jumlah Barang | Harga Perunit |
|---|---|---|
| Bacth 1 | 100 Unit | Rp. 10.000 |
| Batch 2 | 100 Unit | Rp. 12.000 |
| Batch 3 | 100 | Rp. 14.000 |
Total persediaan = 300 unit
Pada periode berjalan, perusahaan menjual 150 unit.
Perhitungan COGS (menggunakan LIFO)
Barang yang paling terakhir masuk akan diakui sebagai barang yang pertama kali dijual, sehingga urutan perhitungan adalah dari batch terakhir:
- 100 unit × Rp14.000 = Rp1.400.000
- 50 unit × Rp12.000 = Rp600.000
Total COGS = Rp2.000.000
Persediaan Akhir
Sisa unit setelah penjualan:
- Batch 2 tersisa 50 unit × Rp12.000 = Rp600.000
- Batch 1 tersisa 100 unit × Rp10.000 = Rp1.000.000
Nilai persediaan akhir = Rp1.600.000
Dengan menggunakan LIFO, COGS menjadi lebih tinggi dibandingkan jika menggunakan unit harga lama, sehingga laba kotor akan lebih kecil. Dalam kondisi inflasi, pendekatan ini dapat membantu menurunkan beban pajak sekaligus mencerminkan biaya terkini dalam laporan keuangan.
Baca juga: Inventory Valuation: Pengertian, Metode dan Contohnya
Pengaruh LIFO terhadap Laporan Keuangan dan Manajemen Inventory
Metode Last-In-First-Out (LIFO) memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap cara perusahaan menampilkan performa finansialnya, terutama ketika harga bahan baku mengalami kenaikan. Karena biaya yang paling terbaru digunakan sebagai dasar perhitungan Harga Pokok Penjualan (COGS), perubahan pada nilai persediaan dapat memengaruhi laba yang dilaporkan, nilai aset, dan persepsi investor terhadap stabilitas kinerja perusahaan.
Dalam kondisi inflasi, penerapan LIFO dapat menghadirkan gambaran biaya yang lebih realistis dibanding menggunakan biaya historis yang mungkin sudah tidak relevan dengan kondisi pasar. Selain memengaruhi laporan keuangan, LIFO juga berperan dalam strategi manajemen persediaan perusahaan.
Metode ini membantu bisnis mengatur pengeluaran dan perencanaan stok dengan mempertimbangkan risiko kenaikan harga dan kebutuhan untuk menjaga arus kas tetap sehat. Bagi industri yang sangat sensitif terhadap fluktuasi nilai bahan baku, penerapan LIFO dapat menjadi alat penting untuk menjaga daya saing, sekaligus mengoptimalkan efisiensi operasional.
Pengaruh LIFO terhadap Laporan Keuangan
- Harga Pokok Penjualan (COGS) Lebih Tinggi Saat Inflasi
Karena biaya terakhir menjadi dasar perhitungan, hasilnya meningkatkan COGS dan menurunkan laba kotor. - Laba Bersih Lebih Rendah
Dengan COGS yang lebih tinggi, laba bersih menjadi lebih kecil dan berdampak pada besaran pajak yang harus dibayar perusahaan. - Nilai Persediaan Akhir Lebih Rendah
Persediaan yang tersisa dihitung menggunakan biaya lama yang lebih murah, sehingga nilai aset di neraca menjadi lebih rendah. - Memengaruhi Rasio Keuangan
Margin laba, return on assets (ROA), dan current ratio bisa tampak lebih rendah, sehingga memengaruhi penilaian investor atau bank. - Persepsi Kinerja Perusahaan Bisa Berbeda
Angka laba terlihat lebih konservatif dibanding metode lain seperti FIFO, sehingga dapat memberikan kesan pengelolaan risiko yang hati-hati.
Pengaruh LIFO terhadap Manajemen Inventory
- Mengurangi Beban Pajak Saat Harga Meningkat
Karena laba bersih lebih rendah, kewajiban pajak juga berkurang dan membantu stabilitas arus kas. - Membantu Menjaga Keseimbangan Biaya Produksi
Penggunaan biaya terkini membantu perusahaan menentukan harga jual lebih kompetitif mengikuti kondisi pasar. - Mempengaruhi Struktur Penyimpanan Stok
Meskipun secara fisik barang mungkin tidak selalu dikeluarkan berdasarkan urutan masuk, strategi ini memengaruhi perhitungan akuntansi dan pengendalian inventory. - Membantu Perencanaan Anggaran dan Forecasting
Karena fluktuasi laba dapat dikendalikan, perusahaan memiliki gambaran lebih jelas untuk membuat rencana jangka panjang.
Baca juga: Inventory Turnover Ratio: Rumus, Faktor dan Cara Menghitungnya
Teknologi dalam Penerapan Metode LIFO
Penerapan metode LIFO membutuhkan dukungan teknologi yang mampu mencatat pergerakan persediaan secara akurat berdasarkan urutan waktu penerimaan barang. Sistem manual atau spreadsheet sering kali tidak efisien karena volume transaksi yang tinggi dan risiko kesalahan pencatatan.
Oleh sebab itu, perusahaan modern memanfaatkan sistem ERP, software inventory management, dan automasi berbasis data untuk memastikan penerapan LIFO berjalan konsisten dan sesuai standar akuntansi. Teknologi memungkinkan perusahaan untuk melakukan pencatatan nilai persediaan secara real-time, memilih metode valuasi seperti LIFO, FIFO, FEFO atau Average Cost hanya melalui konfigurasi sistem, serta menyajikan laporan keuangan dan laporan inventory secara otomatis.
Jenis Teknologi yang Mendukung Penerapan LIFO
- Sistem ERP (Enterprise Resource Planning)
ERP membantu menentukan metode valuasi persediaan yang digunakan oleh perusahaan dan mengotomatisasi perhitungan HPP menggunakan unit biaya terakhir yang masuk. Sistem ERP memastikan konsistensi data antara keuangan dan gudang sehingga pelaporan lebih valid dan dapat diaudit. - Inventory Management System Berbasis Cloud
Software manajemen inventory berbasis cloud menyediakan kemampuan tracking batch, lot, dan serial number yang memudahkan identifikasi barang terbaru yang masuk. Pengguna dapat menerapkan logika LIFO meskipun pergerakan fisik menggunakan strategi yang berbeda. - Teknologi Barcode dan RFID
Teknologi auto-identification seperti barcode scanner dan RFID membantu memastikan transaksi penerimaan dan pengeluaran dicatat dengan benar sesuai urutan waktu masuk, sehingga meningkatkan akurasi data yang diperlukan untuk LIFO. - Business Intelligence dan Analytic Tools
BI tools membantu menganalisis pengaruh penerapan LIFO terhadap laba, pajak, dan nilai persediaan. Dengan dashboard dan simulasi skenario pricing & costing, manajemen dapat menentukan strategi terbaik dalam menghadapi fluktuasi harga. - Automasi dan Integrasi Data Real-Time
Integrasi antara sistem pembelian, produksi, dan penjualan secara otomatis memperbarui nilai inventory dan HPP. Hal ini mengurangi risiko human error dan mempercepat penyusunan laporan keuangan.
Brand ERP yang Mendukung LIFO
Daftar di bawah ini dipilih berdasarkan kriteria bahwa software ERP terbaik untuk LIFO harus mendukung valuasi persediaan secara fleksibel, menyediakan modul inventori + akuntansi terintegrasi, serta memberi kontrol batch/serial atau cost-layering agar perhitungan biaya “unit terakhir in — first out” bisa dijalankan dengan benar.
Berikut beberapa brand ERP yang dikenal mendukung metode LIFO atau memberikan fleksibilitas untuk memilih metode valuasi persediaan:
- SAP S/4HANA — Sistem ini memungkinkan penggunaan metode valuasi persediaan LIFO melalui modul valuasi inventori (Material Ledger / balance-sheet valuation) dengan opsi konfigurasi metode valuasi termasuk LIFO.
- Acumatica Cloud ERP — Menyediakan modul inventory & akuntansi terpadu dengan opsi penilaian persediaan termasuk LIFO, cocok untuk bisnis distribusi/manufaktur.
- NetSuite ERP — Memberikan fleksibilitas konfigurasi metode valuasi persediaan (termasuk LIFO), cocok untuk perusahaan yang ingin fleksibilitas tinggi dalam penilaian stok.

Kesimpulan
metode Last-In-First-Out (LIFO) menunjukkan bahwa strategi ini bukan sekadar teknik akuntansi, tetapi juga alat penting dalam manajemen finansial dan persediaan. Dengan menggunakan biaya unit terbaru sebagai dasar perhitungan Harga Pokok Penjualan (COGS), perusahaan dapat merefleksikan biaya terkini, menjaga stabilitas laba, serta mengelola kewajiban pajak secara lebih efisien, terutama dalam kondisi inflasi.
Selain itu, penerapan LIFO memengaruhi laporan keuangan, nilai aset, dan rasio keuangan, sehingga dapat membantu manajemen dalam membuat keputusan operasional, perencanaan anggaran, dan strategi harga yang lebih realistis. Dalam praktiknya, penerapan LIFO akan lebih efektif jika didukung oleh teknologi yang tepat, seperti sistem ERP, inventory management berbasis cloud, serta integrasi data real-time.
Beberapa brand ERP ternama seperti SAP S/4HANA, Acumatica, dan NetSuite menyediakan fitur fleksibel untuk mendukung metode valuasi ini. Jika Anda ingin memastikan pilihan software ERP sesuai dengan kebutuhan bisnis dan strategi persediaan Anda, berkonsultasi dengan Review-ERP dapat menjadi langkah tepat untuk mendapatkan rekomendasi yang akurat dan profesional.
