Maverick Buying: Pengertian, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Maverick buying sering kali dimulai dari hal sepele, seorang karyawan butuh sparepart mesin hari itu juga, proses pengadaan resmi terasa terlalu panjang untuk situasi mendesak, lalu keputusan diambil sendiri, langsung membeli dari vendor terdekat tanpa melalui persetujuan. Satu transaksi kecil ini terlihat tidak berbahaya, namun ketika pola serupa terjadi berulang kali di berbagai departemen, kontrol pengadaan perlahan mulai kehilangan arah. Harga yang tidak kompetitif, vendor yang tidak terverifikasi, hingga data pembelian yang berantakan pun menjadi konsekuensi yang harus ditanggung perusahaan.
- Apa Itu Maverick Buying?
- Bagaimana Maverick Buying Terjadi?
- Jenis-jenis Maverick Buying
- Perbedaan Maverick Buying dengan Compliant Buying
- Contoh Maverick Buying dalam Perusahaan
- Dampak Maverick Buying terhadap Bisnis
- Bagaimana Cara Mengidentifikasi Maverick Buying?
- Cara Mengatasi Maverick Buying
- Peran Software Procurement dan ERP dalam Mencegah Maverick Buying
- Cegah Maverick Buying dengan Dukungan Software ERP
Apa Itu Maverick Buying?
Maverick buying adalah praktik pembelian barang atau jasa yang dilakukan di luar kebijakan dan prosedur pengadaan resmi yang telah ditetapkan perusahaan. Istilah “maverick” sendiri merujuk pada sikap independen yang bertindak sendiri, tanpa mengikuti aturan main yang berlaku dalam organisasi.
Dalam konteks procurement, pembelian semacam ini biasanya terjadi ketika karyawan atau divisi tertentu melewati proses persetujuan standar, tidak menggunakan vendor yang sudah terdaftar dalam sistem, atau bertransaksi tanpa melalui purchase order (PO) yang sah. Meskipun terkadang dilakukan dengan niat baik, misalnya untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan mendesak, praktik ini tetap dikategorikan sebagai penyimpangan dari alur pengadaan yang seharusnya.
Maverick buying berbeda dengan pembelian ilegal atau penipuan. Sebagian besar kasus terjadi bukan karena niat merugikan perusahaan, melainkan karena proses pengadaan resmi dianggap terlalu lambat, rumit, atau tidak fleksibel untuk kebutuhan operasional sehari-hari.
Bagaimana Maverick Buying Terjadi?
Praktik ini umumnya tidak muncul karena satu sebab tunggal, melainkan hasil dari kombinasi beberapa faktor yang saling berkaitan, mulai dari kondisi mendesak di lapangan hingga kelemahan sistem pengadaan itu sendiri. Dalam banyak kasus, karyawan yang melakukan pembelian di luar prosedur bukan berniat melanggar aturan, melainkan merasa tidak punya pilihan lain di tengah tekanan operasional yang mendesak.
Semakin besar kesenjangan antara kebutuhan bisnis dan kemampuan sistem procurement dalam merespons kebutuhan tersebut, semakin besar pula peluang munculnya maverick buying. Berikut beberapa faktor yang paling sering mendorong terjadinya praktik ini di perusahaan.
Proses Pengadaan yang Dinilai Terlalu Lambat
Ketika alur persetujuan pembelian melibatkan banyak tahap, mulai dari pengajuan, verifikasi anggaran, hingga tanda tangan dari beberapa level manajemen, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu transaksi bisa membentang hingga berhari-hari. Bagi karyawan yang menghadapi kebutuhan mendesak, misalnya kerusakan mesin produksi yang harus segera diperbaiki, menunggu proses resmi selesai bukan pilihan yang realistis. Akibatnya, mereka memilih membeli langsung dari vendor yang dikenal atau mudah dihubungi, meskipun itu berarti melewati jalur persetujuan yang seharusnya.
Kurangnya Sosialisasi Kebijakan Procurement
Tidak semua karyawan memahami dengan baik prosedur pengadaan yang berlaku, terutama di perusahaan dengan struktur organisasi besar, banyak cabang, atau yang baru saja menerapkan kebijakan procurement baru. Ketika sosialisasi kebijakan hanya dilakukan sekali di awal tanpa pengingat atau pelatihan berkelanjutan, informasi tersebut mudah terlupakan seiring waktu. Minimnya edukasi ini membuat sebagian pembelian dilakukan tanpa disadari sebagai bentuk penyimpangan, karena karyawan yang bersangkutan bahkan tidak tahu bahwa mereka seharusnya mengikuti alur yang berbeda.
Ketiadaan Sistem yang Terintegrasi
Tanpa sistem procurement yang terhubung dengan seluruh departemen, pemantauan transaksi menjadi sulit dilakukan secara real-time. Setiap divisi mungkin mencatat pembeliannya sendiri menggunakan spreadsheet atau catatan manual yang terpisah, sehingga tim pengadaan pusat tidak memiliki visibilitas penuh terhadap seluruh aktivitas pembelian yang sedang berjalan. Celah inilah yang membuka peluang bagi transaksi di luar kontrak berjalan untuk lolos tanpa terdeteksi, bahkan hingga proses audit dilakukan di akhir periode.
Preferensi Pribadi terhadap Vendor Tertentu
Beberapa karyawan memiliki hubungan baik dengan vendor tertentu berdasarkan pengalaman kerja sama sebelumnya, entah karena pelayanan yang dianggap lebih responsif, harga yang dirasa lebih bersahabat, atau sekadar kenyamanan berkomunikasi. Kedekatan semacam ini membuat mereka cenderung mengulang transaksi dengan vendor yang sama, meskipun perusahaan sudah memiliki kontrak resmi dengan supplier lain yang telah melalui proses seleksi dan negosiasi harga secara kolektif. Akibatnya, potensi efisiensi dari kontrak terpusat pun tidak sepenuhnya tercapai.
Desentralisasi Keputusan Pembelian
Di beberapa perusahaan, divisi atau cabang tertentu memiliki otonomi dalam melakukan pembelian kecil tanpa perlu persetujuan pusat, biasanya dengan alasan efisiensi operasional sehari-hari. Kewenangan ini sering kali diberikan tanpa batasan nominal atau kategori barang yang jelas, sehingga sulit dibedakan mana pembelian yang benar-benar mendesak dan mana yang sebenarnya bisa melalui jalur normal. Tanpa pengawasan yang memadai, otonomi ini rentan disalahgunakan menjadi kebiasaan membeli di luar prosedur secara berulang.
Jenis-jenis Maverick Buying
Tidak semua maverick buying lahir dari motif yang sama. Ada yang benar-benar terjadi tanpa disengaja karena minimnya pemahaman prosedur, namun ada pula yang dilakukan secara sadar meskipun karyawan tahu bahwa tindakan tersebut menyimpang dari kebijakan perusahaan. Membedakan jenis-jenis ini penting agar perusahaan bisa menentukan pendekatan penanganan yang tepat, karena solusi untuk pelanggaran yang tidak disengaja tentu berbeda dengan solusi untuk pelanggaran yang dilakukan secara sengaja.
Unintentional Maverick Buying
Jenis ini terjadi ketika karyawan melakukan pembelian di luar prosedur tanpa menyadari bahwa tindakannya melanggar kebijakan. Penyebabnya biasanya berkaitan dengan kurangnya sosialisasi, pelatihan, atau pemahaman terhadap sistem procurement yang berlaku, khususnya pada karyawan baru atau divisi yang jarang bersinggungan langsung dengan proses pengadaan formal. Karena sifatnya tidak disengaja, jenis ini umumnya bisa diatasi dengan edukasi dan penyederhanaan alur kerja, bukan tindakan disipliner.
Intentional Maverick Buying
Berbeda dengan jenis sebelumnya, intentional maverick buying dilakukan secara sadar oleh karyawan yang memahami betul bahwa mereka seharusnya mengikuti prosedur resmi, namun tetap memilih untuk melewatinya. Alasannya beragam, mulai dari proses resmi yang dianggap terlalu lambat, preferensi terhadap vendor tertentu, hingga upaya menghindari birokrasi yang dirasa tidak perlu untuk pembelian bernilai kecil. Jenis ini cenderung lebih berisiko karena berpotensi berulang dan sulit dideteksi jika tidak ada sistem pemantauan yang memadai.
Emergency-Driven Maverick Buying
Jenis ini muncul akibat situasi darurat yang menuntut keputusan cepat, misalnya kerusakan mesin produksi yang menghentikan operasional atau kebutuhan mendadak yang tidak bisa menunggu proses persetujuan normal. Meskipun tergolong sebagai penyimpangan prosedur, jenis ini sering dianggap lebih bisa dimaklumi karena berkaitan langsung dengan kelangsungan operasional bisnis, selama tetap didokumentasikan dan dilaporkan setelah transaksi selesai.
Baca juga: Contract Lifecycle Management: Pengertian, Tahapan, dan Manfaatnya bagi Perusahaan
Perbedaan Maverick Buying dengan Compliant Buying
Untuk memahami dampak maverick buying secara lebih jelas, penting melihat bagaimana praktik ini berbeda dari compliant buying, yaitu pembelian yang dilakukan sesuai dengan kebijakan dan prosedur pengadaan resmi perusahaan. Perbandingan berikut menunjukkan beberapa aspek utama yang membedakan kedua pendekatan tersebut.
| Aspek | Maverick Buying | Compliant Buying |
|---|---|---|
| Prosedur pengadaan | Dilakukan di luar alur persetujuan resmi | Mengikuti alur persetujuan yang telah ditetapkan |
| Pemilihan vendor | Sering menggunakan vendor yang belum terverifikasi atau di luar kontrak | Menggunakan vendor yang sudah terdaftar dan melalui proses seleksi |
| Dokumentasi transaksi | Minim atau bahkan tidak tercatat dalam sistem procurement | Tercatat lengkap melalui purchase order (PO) dan sistem terintegrasi |
| Harga dan negosiasi | Cenderung tidak kompetitif karena tanpa negosiasi kontrak terpusat | Mendapat harga lebih baik berkat kontrak dan volume pembelian terpusat |
| Visibilitas bagi manajemen | Rendah, sulit dipantau dan dianalisis | Tinggi, mudah diaudit dan dianalisis untuk pengambilan keputusan |
| Risiko bagi perusahaan | Berpotensi menimbulkan pemborosan, fraud, dan masalah kepatuhan | Risiko lebih terkendali karena berada dalam sistem pengawasan |
Contoh Maverick Buying dalam Perusahaan
Praktik ini sebenarnya lebih mudah dikenali lewat situasi nyata yang mungkin sudah pernah terjadi di lingkungan kerja Anda sendiri, meskipun mungkin tidak pernah disadari sebagai maverick buying. Beberapa contoh berikut menggambarkan bagaimana kebiasaan ini biasanya muncul dalam aktivitas sehari-hari.
- Pembelian rutin berbasis kedekatan personal di cabang
Kepala cabang memiliki kewenangan membeli kebutuhan operasional kecil, seperti alat tulis kantor atau perlengkapan kebersihan, tanpa perlu persetujuan pusat. Lama-kelamaan, kebiasaan ini berkembang menjadi pola pembelian rutin dari vendor lokal yang dipilih berdasarkan kedekatan pribadi, bukan evaluasi harga atau kualitas, sehingga menyulitkan tim pengadaan pusat dalam menyusun laporan yang akurat.
- Pembelian darurat sparepart di lini produksi
Seorang staf produksi mendapati komponen mesin mengalami kerusakan mendadak yang berisiko menghentikan seluruh lini produksi. Alih-alih mengajukan permintaan melalui sistem procurement yang membutuhkan waktu persetujuan hingga dua hari, ia langsung membeli komponen tersebut dari toko sparepart terdekat menggunakan dana operasional divisi, tanpa tercatat dalam sistem PO maupun melalui proses verifikasi harga.
- Penggunaan vendor pribadi untuk kebutuhan mendesak
Tim marketing yang sedang mempersiapkan kampanye promosi mendadak membutuhkan tambahan materi cetak dalam waktu singkat. Karena vendor percetakan resmi dinilai terlalu lama merespons, tim tersebut memilih bekerja sama dengan percetakan lain yang pernah digunakan secara pribadi, sehingga perusahaan kehilangan potensi harga khusus yang sudah dinegosiasikan dengan vendor resmi.
Dampak Maverick Buying terhadap Bisnis
Meskipun sering terlihat sebagai persoalan kecil yang berdiri sendiri, maverick buying yang dibiarkan berlangsung terus-menerus dapat menimbulkan efek berantai yang cukup signifikan terhadap kinerja bisnis secara keseluruhan. Dampak ini tidak selalu terlihat langsung dalam jangka pendek, namun akan semakin terasa seiring bertambahnya frekuensi transaksi yang terjadi di luar prosedur.
- Celah awal munculnya praktik korupsi
Pembelian yang dilakukan berulang di luar prosedur dan tanpa pengawasan memadai bisa menjadi titik rawan penyalahgunaan wewenang, misalnya ketika karyawan tertentu secara konsisten memilih vendor yang sama tanpa alasan bisnis yang jelas, atau ketika harga yang dibayarkan secara sistematis lebih tinggi dari harga pasar wajar tanpa ada penjelasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Pola semacam ini patut menjadi perhatian karena berpotensi berkembang menjadi praktik kickback atau kolusi dengan vendor apabila tidak segera diidentifikasi dan diaudit. - Pemborosan biaya
Setiap pembelian yang dilakukan secara terpisah tanpa melalui proses tender atau perbandingan harga cenderung menghasilkan biaya yang lebih tinggi dibandingkan jika dilakukan melalui jalur resmi. Ketika hal ini terjadi berulang kali di berbagai departemen, akumulasi kerugiannya bisa menjadi cukup besar meskipun setiap transaksi individual terlihat kecil. - Melemahnya posisi tawar terhadap vendor strategis
Ketika volume pembelian tersebar ke berbagai vendor kecil di luar kontrak, perusahaan kehilangan leverage untuk menegosiasikan harga yang lebih kompetitif berdasarkan volume pembelian yang seharusnya terkonsolidasi. Hubungan jangka panjang dengan vendor utama pun berpotensi terganggu karena komitmen volume yang tidak terpenuhi sesuai kesepakatan awal. - Risiko kepatuhan yang meningkat
Transaksi yang tidak melalui proses verifikasi standar berpotensi melibatkan vendor yang belum memenuhi persyaratan legal, keamanan, atau kualitas yang ditetapkan perusahaan, sehingga membuka celah masalah hukum maupun reputasi di kemudian hari, terutama bagi perusahaan yang beroperasi di industri dengan regulasi ketat. - Akurasi perencanaan anggaran yang menurun
Kurangnya visibilitas terhadap seluruh transaksi pembelian membuat tim keuangan dan procurement kesulitan memprediksi kebutuhan pengeluaran secara tepat, karena sebagian data transaksi tidak tercatat dalam sistem yang sama, sehingga laporan yang dihasilkan pun tidak mencerminkan kondisi pengadaan yang sebenarnya.
Baca juga: Purchase Requisition (PR): Pengertian, Proses, dan Cara Kerjanya dalam Pengadaan
Bagaimana Cara Mengidentifikasi Maverick Buying?
Sebelum bisa mengatasi maverick buying, perusahaan perlu terlebih dahulu mengetahui tanda-tanda yang menunjukkan bahwa praktik ini sedang berlangsung di lingkungan kerjanya. Salah satu indikator paling mudah dikenali adalah tingginya jumlah transaksi tanpa purchase order (PO) yang sah dalam laporan keuangan. Ketika tim finance menemukan banyak invoice yang dibayarkan tanpa dokumen pendukung berupa PO resmi, ini biasanya menjadi sinyal awal bahwa sebagian pembelian dilakukan di luar jalur prosedur yang seharusnya. Semakin besar proporsi transaksi semacam ini dibandingkan total pengeluaran, semakin besar pula kemungkinan maverick buying terjadi secara sistematis.
Indikator lain yang perlu diperhatikan adalah munculnya vendor-vendor baru yang tidak terdaftar dalam sistem procurement, namun tetap menerima pembayaran secara rutin. Pola ini sering menunjukkan bahwa ada karyawan atau divisi tertentu yang terus menggunakan vendor pilihan pribadi tanpa melalui proses verifikasi dan pendaftaran yang seharusnya dilakukan sebelum transaksi berlangsung. Selain itu, ketimpangan harga untuk kategori barang atau jasa yang sama juga menjadi sinyal yang patut dicurigai; apabila ditemukan variasi harga yang cukup signifikan untuk item serupa yang dibeli oleh divisi berbeda, hal ini bisa mengindikasikan bahwa sebagian pembelian tidak melalui proses negosiasi terpusat yang seharusnya memastikan konsistensi harga di seluruh organisasi.
Selain melihat data transaksi, perusahaan juga bisa mengidentifikasi maverick buying melalui audit berkala terhadap proses pengadaan di masing-masing departemen. Wawancara singkat dengan karyawan mengenai kebiasaan mereka dalam melakukan pembelian, dikombinasikan dengan pengecekan silang terhadap catatan sistem, sering kali mengungkap praktik yang selama ini tidak tercatat secara resmi namun sudah berjalan cukup lama.
Cara Mengatasi Maverick Buying
Mengatasi maverick buying membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, tidak hanya berfokus pada penegakan aturan, tetapi juga memperbaiki akar masalah yang membuat karyawan merasa perlu mengambil jalan pintas dalam proses pembelian. Pendekatan yang hanya mengandalkan sanksi tanpa memperbaiki sistem yang mendasarinya biasanya tidak bertahan lama, karena karyawan akan tetap mencari celah baru selama proses resmi masih dianggap menghambat pekerjaan mereka.
Oleh karena itu, solusi yang efektif perlu menggabungkan perbaikan proses, edukasi, dan penguatan sistem secara bersamaan. Berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan perusahaan untuk menekan praktik ini secara bertahap.
Menyederhanakan Proses Persetujuan
Alur persetujuan yang terlalu panjang, apalagi jika melibatkan banyak level manajemen untuk pembelian bernilai kecil, sering menjadi alasan utama karyawan menghindari prosedur resmi. Menyederhanakan tahapan persetujuan untuk pembelian bernilai kecil, misalnya dengan menetapkan batas nominal yang bisa disetujui langsung oleh atasan divisi tanpa perlu eskalasi ke level lebih tinggi, dapat mengurangi dorongan untuk membeli di luar sistem.
Perusahaan juga bisa menetapkan service level agreement (SLA) internal untuk memastikan setiap pengajuan pembelian diproses dalam jangka waktu yang wajar, sehingga karyawan tidak merasa perlu mencari jalan pintas hanya karena proses terasa tidak pasti.
Menyediakan Jalur Darurat yang Resmi
Alih-alih membiarkan karyawan mencari jalan pintas sendiri saat menghadapi kebutuhan mendesak, perusahaan bisa menyediakan prosedur darurat resmi dengan proses persetujuan yang dipercepat namun tetap tercatat dalam sistem. Jalur ini biasanya melibatkan persetujuan verbal atau digital yang bisa diberikan dalam hitungan menit, dengan syarat dokumentasi lengkap tetap disusulkan dalam waktu singkat setelah transaksi selesai.
Dengan begitu, kebutuhan mendesak tetap bisa terpenuhi tanpa mengorbankan visibilitas dan kontrol pengadaan, sekaligus memberikan rasa aman bagi karyawan bahwa ada cara resmi untuk menangani situasi darurat.
Melakukan Sosialisasi dan Pelatihan Berkelanjutan
Edukasi mengenai kebijakan procurement tidak cukup dilakukan sekali di awal masa kerja, mengingat kebijakan dan sistem yang digunakan perusahaan bisa berubah seiring waktu. Pelatihan berkala, terutama saat ada perubahan kebijakan atau sistem baru, membantu memastikan seluruh karyawan tetap memahami prosedur yang berlaku dan konsekuensi dari pembelian di luar jalur resmi.
Sosialisasi ini idealnya tidak hanya berbentuk presentasi satu arah, tetapi juga melibatkan sesi tanya jawab agar karyawan bisa menyampaikan kendala yang mereka hadapi dalam mengikuti prosedur yang ada.
Memperkuat Pengawasan dan Audit Rutin
Audit berkala terhadap transaksi pembelian di setiap departemen membantu mendeteksi pola maverick buying sejak dini, sebelum berkembang menjadi kebiasaan yang lebih sulit diubah. Proses audit ini sebaiknya tidak hanya berfokus pada nilai transaksi besar, tetapi juga memperhatikan pola transaksi kecil yang berulang, karena justru di sanalah maverick buying paling sering bersembunyi.
Pengawasan yang konsisten juga memberikan efek jera bagi karyawan yang cenderung mengambil jalan pintas, sekaligus menjadi dasar evaluasi untuk memperbaiki proses yang masih dianggap menyulitkan.
Melibatkan Karyawan dalam Evaluasi Vendor
Memberikan ruang bagi karyawan untuk mengusulkan vendor baru melalui mekanisme evaluasi resmi dapat mengurangi kecenderungan menggunakan vendor pribadi secara sepihak. Mekanisme ini bisa berupa formulir pengajuan vendor baru yang kemudian dievaluasi oleh tim procurement berdasarkan kriteria harga, kualitas, dan legalitas, sebelum akhirnya didaftarkan ke dalam vendor management system perusahaan sebagai vendor resmi.
Dengan begitu, preferensi karyawan tetap terakomodasi tanpa harus melanggar prosedur yang berlaku, sekaligus memperluas jaringan vendor terpercaya yang dimiliki perusahaan secara terstruktur dan mudah dipantau.
Menerapkan Sistem Procurement Terintegrasi
Sistem yang menghubungkan seluruh proses pengadaan dalam satu platform memudahkan pemantauan transaksi secara real-time, sekaligus mempercepat alur persetujuan tanpa mengorbankan kontrol. Dengan sistem seperti ini, setiap pengajuan, persetujuan, hingga pembayaran bisa dilacak dalam satu alur kerja yang transparan, sehingga baik karyawan maupun tim procurement memiliki visibilitas yang sama terhadap status setiap transaksi. Poin ini akan dibahas lebih mendalam pada bagian selanjutnya
Peran Software Procurement dan ERP dalam Mencegah Maverick Buying
Di tengah berbagai langkah manual yang bisa diterapkan perusahaan, teknologi tetap menjadi fondasi utama dalam mencegah maverick buying secara berkelanjutan. Software procurement dan ERP yang terintegrasi tidak hanya mempercepat proses pengadaan, tetapi juga menutup celah-celah yang selama ini dimanfaatkan untuk melakukan pembelian di luar prosedur. Berikut beberapa peran penting yang bisa diberikan oleh sistem semacam ini.
- Otomatisasi Alur Persetujuan
Sistem procurement modern memungkinkan alur persetujuan diatur secara otomatis berdasarkan nilai transaksi, kategori barang, atau departemen pengaju, sehingga proses yang sebelumnya memakan waktu berhari-hari bisa dipersingkat menjadi hitungan jam. Notifikasi otomatis kepada pihak yang berwenang menyetujui juga membantu menghindari keterlambatan akibat approval yang tertahan tanpa disadari. - Sentralisasi Data Vendor dan Kontrak
Dengan seluruh data vendor dan kontrak tersimpan dalam satu sistem terpusat, karyawan yang membutuhkan barang atau jasa tertentu bisa langsung melihat vendor mana saja yang sudah terdaftar beserta harga kontrak yang berlaku, tanpa perlu mencari vendor alternatif secara mandiri. Hal ini secara langsung mengurangi kecenderungan untuk menggunakan vendor pribadi di luar daftar resmi perusahaan. - Visibilitas Transaksi secara Real-Time
Setiap transaksi yang tercatat dalam sistem dapat dipantau secara real-time oleh tim procurement maupun manajemen, sehingga pola pembelian yang mencurigakan bisa segera terdeteksi sebelum berkembang menjadi kebiasaan yang lebih besar. Dashboard analitik yang disediakan sistem juga memudahkan identifikasi anomali, seperti transaksi tanpa PO atau lonjakan pembelian dari vendor tertentu. - Integrasi dengan Modul Keuangan
Ketika sistem procurement terhubung langsung dengan modul keuangan dalam satu platform ERP, setiap pengajuan pembelian otomatis tersinkronisasi dengan anggaran yang tersedia, sehingga potensi pembelian di luar budget yang telah ditetapkan bisa dicegah sejak awal. Integrasi ini juga mempermudah proses rekonsiliasi dan pelaporan keuangan di akhir periode. - Kemudahan Akses melalui Sistem Mobile
Banyak sistem procurement modern kini dilengkapi akses mobile yang memungkinkan proses persetujuan dilakukan kapan saja, bahkan ketika pihak yang berwenang sedang berada di luar kantor. Kemudahan ini membantu mengatasi salah satu alasan utama keterlambatan persetujuan yang selama ini mendorong karyawan mencari jalan pintas.

Cegah Maverick Buying dengan Dukungan Software ERP
Mengenali dan memahami akar penyebab maverick buying adalah langkah awal yang penting, namun tantangan sesungguhnya terletak pada bagaimana memastikan setiap proses pengadaan, mulai dari pengajuan permintaan, persetujuan pembelian, hingga pemilihan vendor, berjalan sesuai prosedur, terpantau di setiap lini, dan terdokumentasi secara konsisten sebagai bagian dari operasional bisnis sehari-hari.
Dengan dukungan software ERP yang dirancang untuk menjawab kompleksitas procurement modern, perusahaan dapat mendeteksi potensi penyimpangan lebih awal sebelum berkembang menjadi kebiasaan yang sulit dikendalikan, meningkatkan akurasi data pembelian dan anggaran secara real-time, serta memastikan setiap transaksi dalam proses pengadaan dapat dilacak secara transparan kapan pun dibutuhkan, baik untuk keperluan audit internal maupun pengambilan keputusan strategis oleh pemangku kepentingan.
Tanpa sistem yang terintegrasi, berbagai kendala seperti alur persetujuan yang lambat, minimnya visibilitas transaksi antar divisi, hingga sulitnya mendeteksi pembelian di luar kontrak akan terus membuka celah bagi praktik maverick buying untuk berkembang. Itulah mengapa semakin banyak perusahaan yang mulai mengadopsi solusi digital seperti SAP Business One, SAP S/4HANA, dan Acumatica untuk mengelola proses pengadaan secara lebih terpusat, berbasis data real-time, serta mampu menutup celah penyimpangan yang selama ini sulit terdeteksi.
Hubungi kami sekarang dan temukan bagaimana solusi ERP kami dapat membantu perusahaan Anda membangun sistem procurement yang lebih tertib, transparan, dan bebas dari risiko maverick buying.
